| Rabu, 11 April 2007 | BUDAYA |
SENIMANPerupa FotogenikAULY KASTARI, itulah namanya. Perupa adalah pekerjaannya. "Sebagai pelukis, dia fotogenik." Begitulah sepenggal SMS dari Tubagus P Svarajati, pengelola Rumah Seni Yaitu, Semarang, ketika saya mintai komentar tentang Auly. Ya, ya, Tubagus benar. Auly yang tinggi, tegap, berkumis baplang, berambut panjang (kadang dikuncir, sesekali digelung), serta lebih kerap tampil dengan busana hitam, pas betul sebagai sosok yang acap dibayangkan kebanyakan orang tentang seniman. Dan, mungkin, karena itulah Tubagus merekomendasikan dia menjadi peraga dalam pengambilan gambar sebuah mata acara Metro TV, beberapa waktu lalu. Namun Auly memang perupa bukan? Ya. "Saya suka menggambar sejak kecil. Dan, ternyata lewat lukisan saya bisa hidup dan menghidupi keluarga saya," ujar Auly Kastari. Kini, lelaki kelahiran Semarang, 1 Juli 1956, ini terus menggulati hidup sebagai perupa, didampingi sang istri tercinta Sumiyatun. Bapak dua anak, Gasa Gitakaseng dan Melsa Martadila, ini juga ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya, Jalan Candi Mas I/442, Pasadena, Semarang. "Ha-ha, jadi ketua RT adalah kesempatan bagi saya belajar bicara," ujarnya. Auly memang pendiam. Namun, lihatlah, bukankah sorot mata yang tajam itu mengunjukkan daya hidup yang terus membuncahkan harapan? Juga kesediaan terus belajar, terus berkarya? Auly meneguhkan diri sebagai pelukis, antara lain, dengan berguru pada Mozes Misdy. Sang guru menyatakan cuma ada dua muridnya yang kelak bakal jadi. Dan, salah seorang di antaranya adalah Auly. Cukup sering dia mengikuti pameran bersama. Namun baru sekali dia pameran tunggal. Itulah "Pameran Asal Auly Kastari" di Sripit Art Shop & Fashion (kini Galeri Bu Atie), Jalan Borobudur Utara Raya 6, Semarang, pada 22 Juli-21 Agustus 2006. Pada pameran terakhir itulah tampak sapuan dan warna agak berbeda dari karya-karya sebelumnya. Belum sempurna benar, memang. "Namun itulah wujud nyata kegelisahan saya untuk melukis sesuai dengan rasa dan keinginan lepas dari bingkai pesanan," ujar dia. Pesanan? Ya, pelukis realis-naturalis ini tak mengelaki kenyataan bahwa periuk di dapur bisa terus mengebul karena menggarap pesanan. Paling tidak empat-lima lukisan sebulan diambil sang pemesan dari Malaysia. "Itu lukisan-lukisan serial panen," katanya.(Gunawan Budi Susanto-53) |