| Senin, 09 April 2007 | SALA |
Karyawan Tempati Peringkat Tertinggi
SOLO- Hingga Maret 2007, karyawan dan wiraswasta menempati peringkat tertinggi pengidap HIV/AIDS di wilayah eks Karesidenan Surakarta. Ini bisa diketahui karena golongan pekerja ini yang paling banyak memeriksakan diri. Usia mereka yang relatif produktif dan memiliki mobilitas tinggi menjadi salah satu penyebab. ''Kalau melihat mobilitas mereka yang tinggi, wajar saja jika HIV/AIDS banyak menyerang mereka yang usia produktif," kata District Project Officer GF-ATM, Anwar Fauzi, pekan lalu. Data Global Fund AIDS Tuberculosis Malaria (GF-ATM) Kota Solo selama kurun waktu setahun menyebutkan, dari 64 penderita HIV/AIDS sebanyak 19 orang berstatus karyawan dan 13 orang wiraswasta. Berikutnya, pria pekerja seks (PPS) sebanyak sembilan orang. Sisanya adalah para sopir, ibu rumah tangga, wanita tuna susila (WTS), dan mahasiswa. Bisa Bertambah Menurut dia, jumlah ini masih bisa bertambah. Sebab, mereka yang telah melakukan tes HIV/AIDS, masih ada yang belum mengambil hasilnya, yakni sekitar 47 persen. Itu terjadi mungkin karena takut atau karena belum tahu hasilnya. ''Kami terus mendorong mereka agar mau mengambil hasil tes ini," tuturnya. Guna menekan angka penderita HIV/AIDS, pihaknya akan menambah jumlah penjangkau yang akan diterjunkan langsung memberikan informasi kepada mereka yang berpotensi tinggi tertular HIV/AIDS. Tahun ini jumlah penjangkau yang hanya 30 orang akan ditambah menjadi 100 lebih. ''Agar lebih efektif, tentu saja kita akan cari relawan yang benar-benar dari kalangan mereka. Kalau sasaran kita karyawan, tentunya penjangkaunya karyawan. Kalau mereka WTS dan PPS, akan direkrut juga dari kalangan itu," ungkapnya. Selain menekan penularan HIV/AIDS, penambahan penjangkau juga dimaksudkan untuk memperluas distribusi pekerjaan yang ada. Pasalnya, dengan ditemukannya pengidap HIV/AIDS tiap bulan, itu menggambarkan penularan penyakit mematikan tersebut telah meluas. ''Dulu kalau kami cari tiap tahun, pasti dapatnya cuma satu. Namun melalui penjangkau yang ada, tiap bulan pasti ada penambahan jumlah temuan pengidap HIV positif," ujarnya. Kendati menambah jumlah penjangkau, jelas Anwar, pihaknya belum berani memasuki kawasan pendidikan untuk menjangkau pelajar yang kemungkinan beresiko tinggi pula. (G8-67) |