logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 April 2007 RAGAM
Line

Raja Udang, Burung Isian

BURUNG ini dinamakan raja udang, karena gemar memangsa udang dan ikan-ikan kecil. Itu sebabnya, ia memiliki habitat yang cukup unik: kawasan pertambakan atau dekat pantai.

Di alam bebas, burung ini tidak hidup berkelompok. Ada juga yang menyebutnya kengkek, lantaran mengeluarkan bunyi ''kek.. kek.. kek..''.

Raja udang memiliki bulu-bulu yang indah, terdiri atas warna biru, merah, dan kuning. Paruh dan kaki-nya berwarna merah. Ocehannya hanya ''kek.. kek.. kek..'', tetapi ngerol panjang.

Tidak heran jika kengkek lebih sering dijadikan burung isian (master) bagi burung berkicau lainnya. Sebagian orang memeliharanya sebagai burung hias.

Saat ini kengkek jarang ditemui di pasar-pasar burung. Populasinya terus merosot, apalagi perkembangbiakannya relatif lambat (hanya bertelur dua butir). Bahkan yang menetas rata-rata hanya seekor.

Musim kawin dan bertelur berlangsung pada musim hujan. Mereka membangun sarangnya di dahan-dahan sekitar rawa, namun ada juga yang memilih parit di sekitar pantai.

Apabila sudah jadi, burung ini laku dijual Rp 200.000/ekor. ''Bahkan ia sering berkicau saat di-dekati orang,'' kata Iwan S, penggemar kengkek.

Sebagaimana burung pemakan ikan lainnya, raja udang memiliki pa-ruh besar, panjang, dan agak melebar. Kalau dipelihara sejak muda, ia bisa dibiasakan mengkonsumsi voer, tetapi dicampur dengan potongan udang. Kalau sudah terbiasa, seluruh pakan bisa berupa voer saja.

Sangkar yang dibutuhkan berukuran 40 x 50 cm2. Sebab burung ini tidak banyak bergerak. Sediakan air dalam jumlah cukup banyak, karena raja udang gemar mandi, bahkan bisa 4-5 kali dalam sehari. (Arief Ismeidi-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA