logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 April 2007 RAGAM
Line

Belajar Membibit Tanaman Buah

WARGA di perkotaan umumnya tidak mempunyai lahan cukup luas. Namun hal ini jangan dijadikan alasan untuk mematikan hobi bertanam. Berapa pun sisa tanah yang ada da-pat dimanfaatkan untuk menyalurkan hobi itu, baik tanaman hias maupun tanaman keras seperti buah-buahan.

Namun tak semua orang tahu cara memilih jenis tanaman yang cocok bagi pekarangannya, terlebih masalah pembibitan. Bibit dapat diperoleh di beberapa nursery. Bisa juga melalui perbanyakan, baik melalui cangkok, setek, maupun menyemai dari tanaman lain yang ada.

Perbanyakan tanaman bisa dilakukan dengan memanfaatkan anggota tubuh tumbuhan itu, baik secara generatif maupun vegetatif. Pembibitan generatif adalah perbanyakan dengan menggunakan biji.

Sedangkan pembibitan vegetatif menggunakan alat-alat lain kecuali biji, seperti akar cabang, daun, dan bagian sel biji yang dibuahi.

Pembibitan secara vegetatif cenderung memiliki masa remaja yang lebih pendek sehingga cepat berbuah, kecuali terjadi mutasi genetik. Dengan pembibitan ini, sifat unggul induknya bisa dipertahankan. Ka-rena itu, pilihlah induk yang baik dan menghasilkan buah berkualitas.

Menurut Hendro Sunarjono, meski banyak cara, pada dasarnya hanya ada dua klasifikasi perbanyakan vegetatif. Pertama, tanpa mengubah sifat pohon induk. Misalnya stek, tunas, cangkok, sobek anakan, rundukan, dan kultur jaringan atau kultur meristan.

Keunggulan Sifat

Kedua, meningkatkan keunggulan sifat pohon induk. Misalnya okulasi, sambungan (en-ten), susuan (aproach grafting), atau modifikasi dari ketiganya. Cara itu sering disebut sebagai penempelan, penyambungan, atau hibridisasi vegetatif (Ilmu Produksi Tanaman Buah-buahan, 1986).

Pembibitan vegetatif adalah tindakan penggabungan dua jenis tanaman. Yang satu disebut batang atas (entris) sebagai penerima, yang satu lagi batang bawah (onderstam) sebagai donor.

Karena itu, kedua batang harus dapat menopang kehidupan bersama, tanpa efek yang tak dikehendaki. Bahkan dharapkan bisa meningkatkan kekekaran, produktivitas, serta kualitas hasil pada batang atas.

Batang bawah harus punya sifat kompatibel (serasi) dengan batang atas, tahan terhadap penyakit akar atau leher batang, memiliki sistem perakaran yang luas dan kuat.

Selain itu, mampu mendorong batang atas agar tumbuh pendek tapi cepat berbuah, tahan terhadap lingkungan yang menekan (stres), serta toleran terhadap derajat keasaman (pH) rendah atau alkalis tinggi. Se-lamat mencoba! (Intan Duta Swara Kharisma-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA