logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 April 2007 NASIONAL
Line

Budaya Bangsa Kurang Dipahami

MENGULAS kebudayaan dan kebangsaan memang tak pernah ada habisnya. Apalagi jika meluncur dari mulut WS Rendra. Si "Burung Merak" itu cukup detail saat diminta mengupas sejarah kebudayaan Indonesia dulu hingga perkembangannya sekarang.

Dengan lugas dan ekpresif, dia mengemukakan fakta sejarah perusakan budaya nusantara yang dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan, setelah pemerintahan dipimpin oleh kaumnya sendiri, perusakan budaya juga terus berlanjut.

Fakta sejarah tersebut dibeberkan pimpinan Bengkel Teater dalam dialog yang digelar Dewan Kesenian Pati (DKP), Jumat (6/4) di Hotel Kurnia, Pati.

Gaya penyajian materi dialog yang sederhana, tidak menyurutkan perhatian puluhan seniman dan budayawan yang hadir dalam kesempatan itu. Audien dari masyarakat seni dan budayawan Pati, Kudus, dan Jepara itu tercengang saat budayawan yang akrab dipanggil Mas Willy itu memaparkan prolog hingga satu jam lebih.

Menurutnya, kecenderungan berbangsa lebih awal dipraktikkan orang Indonesia dibanding kesadaran untuk bernegara. Itu terlihat dari penggunaan bahasa Jawa kuno (palawa) yang muncul sejak abad ke-7. Akibatnya sastra Jawa telah tumbuh sekitar abad 10 dan abad 11. Cukup tua dibanding kemunculan bahasa Melayu yang menurut literatur baru digunakan pada abad 13.

Namun, kata Rendra, struktur sastra dalam bahasa Jawa masih dipengaruhi gaya India. Sementara bahasa Melayu yang muncul belakangan telah memiliki struktur tersendiri, meski kelahirannya berbarengan dengan Islam masuk ke Indonesia. Salah satu bentuk tulisan yang ditemukan adalah arab gundul.

Bahkan, jika dibanding dengan sastra Eropa, sastra Jawa lebih dulu ada. Sebab, Eropa baru mengenal sastra mulai abad 16. "Jadi soal berbangsa kita lebih dulu dibanding Eropa, meski kalah dengan China, India, dan Yunani," kata Rendra.

Kukuh

Akan tetapi dalam perkembangannya, sastra Jawa yang disebut Rendra sebagai pola berbangsa itu, tata nilainya terus bergeser. Lain dengan budaya Bali, Toraja, Ternate, Bugis, Aceh, maupun Lampung. Di tempat-tempat itu masyarakatnya kukuh memegang hukum adat yang diwariskan para leluhurnya, sehingga kekuatan hukum lebih dominan daripada penguasa. "Dengan kondisi itu rakyatnya akan kuat dan susah ditaklukkan," katanya.

Lantas Rendra menarik kontekstualitasnya di wilayah Pati. Daerah ini, masih terdapat kelompok minoritas masyarakat adat yang konsisten menerapkan tata cara leluhurnya Samin Surosentiko. Sehingga mereka lazim disebut Samin.

Maklum, saat ini dia tengah terlibat dalam pembuatan film layar lebar berjudul Lari dari Blora yang disutradarai Akhlis Suryapati. Rendra mengaku sangat respek dengan skenario yang menceritakan kearifan masyarakat lokal dalam berbangsa.

Namun dia juga menyatakan bahwa saat ini semangat berbangsa telah pudar. Bahkan ada kecenderungan masyarakat sekarang melupakan budaya. "Pemerintahan sejak orde lama hingga sekarang, dalam membuat kebijakan, selalu tidak memahami budaya. Akibatnya, ke depan Indonesia akan selalu didekte bangsa lain tanpa punya kepribadian."

Ya, dialog yang dibuka pukul 20.30 dan berakhir sekitar tiga jam kemudian, dirasa singkat. Hadirin masih ingin mendapat lebih banyak lagi ''ilmu'' dari sang maestro. Sayang, Rendra harus beristirahat karena keesokan harinya dia harus menjalani pengambilan gambar. (Noor Efendi, Adhitia A-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA