logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 April 2007 KEDU & DIY
Line

Dialog Santri dan Oneng ''Oon''

Apa Mbak Rieke Juga Suka Sedekah?

RIBUAN santri, pelajar dan jamaah pengajian Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Salafiyah Wonoyoso, Kebumen, Minggu, kemarin tetap sabar menunggu, meski artis Rieke ''Oneng'' Diah Pitakola, terlambat dua jam.

Begitu artis yang juga wakil sekretaris DPP PKB masuk kompleks Masjid Salafiyah Wonoyoso, para ibu, santriwati dan jamaah berebut bersalaman. Oneng pun segera dikawal ketat Banser agar segera menuju tempat duduk.

Agus Salim Chamidi yang memandu meminta mbak Oneng ''Oon'' itu naik panggung. Memakai baju hitam, celana hitam dan kerudung hitam, tetap tak menghapus kecantikan artis yang juga aktivis kelahiran Garut tersebut.

Tak heran, saat memasuki pondok itu para ibu-ibu bergumam,''Ya ampun. ayu tenan ya (Ya ampun, cantik sekali ya),'' ucap ibu setelah menatap dari dekat wajah Rieke. Si Oneng pun kemudian bercemarah dan mengajak para pelajar mengajukan pertanyaan.

Nur Hamid (18), siswa kelas tiga Madrasah Aliyah Salafiyah maju bertanya, apakah selama ini mbak Rieke juga menggunakan sebagian honornya untuk sedekah? Dasar artis, ditanya begitu tak langsung menjawab tapi balik tanya,''Sampeyan sudah punya pacar belum?

Rieke pun menjelaskan, sedekah tak perlu diceritakan. Apalagi dia berprinsip, ketika tantangan kanan memberi, tangan kiri tak boleh tahu. Dia juga menjelaskan, selama ini dia punya Yayasan Pitaloka yang bergerak di bidang pendidikan sastra.

Ia memandang penting dunia sastra. Sebab, dalam buku sastra banyak ajaran dan pendidikan yang bisa diambil tanpa harus menggurui. Dia pun mengajak anak-anak pelajar bekerja sama.

Bahkan Rieke menawari anak-anak muda aktivis membantu korban lumpur Lapindo di Porong. Caranya, mengumpulkan satu buku cerita, tidak harus baru, untuk disumbangkan kepada anak-anak di Porong.

Seorang ibu, Ny Siti Zulaika, tak mau kalah ke panggung bertanya ke Rieke. Dia menanyakan dua hal, mengapa Papernas dianggap komunis dan harus bentrok dengan Front Pembela Islam (FPI). Lalu mengapa masih terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)?

Rieke pun tak lupa memberi cium sayang di pipi kiri dan kanan Ny Zulaika. Lalu dia menjawab bak pakar politik, Partai Persatuan Nasional itu dicap komunis. Itu adalah gaya politik Orde Baru, untuk menjatuhkan kredibilitas salah satu pihak dengan cap komunis.

Kekerasan Berkedok Agama

Dia pun prihatin belakangan ini ada fenomena agama menjadi legitimasi untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain.''Dan yang paling gampang untuk menyudutkan kelompok tertentu dengan cap komunis itu.''

Padahal, lanjut Rieke, saat deklarasi Papernas itu dia dan KH Abdurrahman Wahid turut diundang. Karena tujuan acara itu baik, yakni menolak UU Penanaman Modal Asing yang substansinya bisa menjual kekayaan negara kepada asing.''Namun anehnya, hanya FKB dan FPDI-P yang menolak UU itu,'' tandas Oneng.

Mengenai KDRT, Rieke menjelaskan sebenarnya telah ada Undang-undang KDRT sejak tahun 1994. Namun gaung Undang-Undang itu masih belum nampak. Karena itu, dia mengajak para aktivis dan kaum perempuan untuk aktif mendorong berlakunya Undang-Undang tersebut demi melindungi kaum wanita.

Dia pun menjelaskan, kekerasan terhadap perempuan bukan hanya kekerasan fisik. Namun ada kekerasan psikis, kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi. Misalnya, seorang wanita dipaksa diperdagangkan. Jelas hal itu dilaraag dan harus dilawan karena merupakan tindakan kriminal.

Sutarmi, seorang pelajar, menanyakan bagaimana menjadi aktivis yang ideal. Rieke pun menjelaskan, menjadi aktivis itu gampang. Minimal, bisa membantu teman yang kesulitan.

Dia juga meminta pelajar dan aktivis perempuan terus belajar. Dia menyatakan, semua orang pada dasarnya punya sikap negatif dan positif. Bagi aktivis, tentu yang harus dikebangkan adalah berpikir positif.''Kalau ingin maju, kita harus banyak melihat sisi positif orang lain,'' tandas Rieke.

Di akhir acara, hadir pula Yenny Zannuba Wahid, putri KH Abdurrahman Wahid yang dedengkot PKB, serta politisi dokter Umar Wahid. Yenny pun mengajak kaum lelaki menghargai perempuan dan mendorong agar bisa mandiri.

Apalagi tugas perempuan di tengah kesulitan ekonomi saat ini sangat berat. Minimal di rumah setiap perempuan mengasuh anak, mengatur rumah tangga sehinga setiap ibu dituntut menjadi seorang akuntan atau mengatur keuangan dan ekonomi rumah tangga.

''Ada titip salam dari abah saya KH Abdurrahman Wahid dan Ibu Sinta Nuriyah. Kali ini tak bisa hadir karena tamu Gus Dur setiap hari banyak,'' ujar Yenny. (Komper Wardopo-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA