logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 April 2007 EKONOMI
Line

Kucuran Kredit Anjlok, Kredit Macet Melonjak

SEMARANG-Kinerja perbankan, baik bank umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR), pada triwulan I tahun 2007 menunjukkan peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, kualitas pengucuran kredit justru menujukkan indikasi anjlok.

Pemimpin Bank Indonesia Semarang, Amril Arief mengatakan, relaksasi perbankan yang didorong hendaknya mampu memacu pengucuran kredit kepada masyarakat. Bank diimbau kian mempermudah ketentuan pemberiannya dan menurunkan suku bunga.

Dengan demikian sektor riil dapat bergerak. Selama ini terkesan ada sektor usaha yang tidak bisa dilayani perbankan, terutama terhadap industri sunset atau industri yang dinilai sulit berkembang. Di sisi lain, prinsip kehati-hatian tetap diutamakan agar risiko kredit dapat dikelola dengan baik.

"Adanya dorongan, relaksasi ini diupayakan kian membuka peluang peningkatan fungsi intermediasi perbankan, terutama bank skala besar. Saat ini kami sedang melakukan kajian terhadap sektor unggulan. Nantinya hasil kajian itu bisa menjadi referensi bagi perbankan," katanya kepada wartawan kemarin.

Berdasar laporan business plan perbankan yang diterima Kantor BI Semarang, ada peningkatan rencana pengucuran kredit hingga 3 kali lipat pada 2007 dibanding tahun sebelumnya.

Sedangkan rencana yang disodorkan perbankan yang berkantor pusat di Semarang, peningkatannya mencapai 1,5 kali.

Amril menyebutkan total aset perbankan tumbuh 17% menjadi Rp 83,7 triliun, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 15,22% menjadi Rp 67,1 triliun, dan kredit tumbuh 13,04% menjadi Rp 52,1 triliun. Dengan pertumbuhan kredit yang lebih rendah dari pertumbuhan DPK itu, LDR turun 79,13% menjadi 77,64%. Sementara itu, rasio Non Performing Loans (NPLs) naik dari 4,92% menjadi 6,06%.

Dilihat dari penggunaan, kredit konsumsi mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu 16,41% menjadi Rp 17,9 triliun. Disusul kredit modal kerja, tumbuh 12,02% menjadi Rp 30 triliun dan kredit investasi yang hanya tumbuh 5,45% menjadi Rp 4,2 triliun.

Meski demikian, kredit modal kerja masih memberikan porsi terbesar terhadap total kredit, yaitu 57,56%.

"Perlu diketahui, dukungan perbankan sering tidak diiringi kesiapan sektor riil untuk memulai usahanya. Angka undisbursed loans atau kredit yang disetujui tapi belum tersalurkan mencapai Rp 7,1 triliun," tandasnya. (H22-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA