logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 April 2007 BUDAYA
Line

PERCIK

Menyoal Teater

  • Oleh Joen

TEATER Cilik tahun 1980-an mementaskan Ken Arok. Itulah kisah tentang sosok congkak, oportunistis, pengumbar syahwat yang mengobral kedurhakaan kepada Mpu Gandring.

Teater Cilik juga mendramatisasikan puisi "Terbunuhnya Atmo Karpo" WS Rendra. Teater yang dibangun komunitas seni SPG Negeri (kini SMU 3) Pemalang itu sering pula memenuhi undangan pentas. Beberapa kali kelompok itu menjuarai festival teater rakyat.

Namun semua itu nyaris tak berbekas. Kini, "situs" perteateran di Pemalang sulit ditemukan. Untung, beberapa seniman yang dulu bergabung dalam Selaksa Penulis Pemalang (SPP) masih bisa diajak mengobrol. Meski, sebatas mengenang sukses atas penokohan mereka.

Betapa memprihatinkan keterpinggiran seni teater. Kini, Pemalang diramaikan dunia hiburan, khususnya musik ingar-bingar. Bukan oleh teater. Dangdut adalah menu utama, selain pop masa kini, yang disajikan grup be-rating tinggi. Kendati untuk menonton mesti membayar mahal, tak jadi soal. Meski berisiko terhadap keselamatan, tak dibuat alasan. Bandingkan dengan nonton teater gratis!

Artinya? Telah jadi menu basikah teater kita? Mana kepedulian insan seni, seperti Fauzi Robbani, Timur Sandiarge, Darmanto, dan Suwito? Sibuk mengejar karier yang lebih menjanjikan ketimbang berteater?

Bagaimana dengan pesan aktor kawakan asli wong Pemalang, Torro Margens? Bukankah dia pernah berkata, saat temu seniman Pemalang, bahwa idealisme dan proses kreatif dalam berseni harus terlepas dari ketergantungan pada materi? Jelas, itu pesan filosofis yang seharusnya dipegang teguh dan diaktualisasikan sebagai tanggung jawab moral oleh praktisi seni.

Seyogianya ada tiga pilar yang menyangga keberadaan seni teater. Pertama, seniman yang selalu concern hendaknya memanifestasikan daya kreasi dalam sikap nyata, meski tak malang melintang di panggung. Dengan konsekuensi, mewariskan kekayaan berseni ke generasi muda peminat teater.

Kedua, revitalisasi seni teater di sekolah melalui program intra dan ekstrakurikuler. Guru hendaknya benar-benar cinta dan menguasai teknik bermain teater. Jika perlu, menghadirkan ahli agar pembelajaran lebih komprehensif. Ketiga, sebagai fasilitator Dinas Pendidikan seharusnya proaktif memberikan prasarana dan sarana secara proporsional atas keberadaan seni teater.

Secercah harapan mengembang manakala ketiga pilar penyangga berjalan sinergis. Jangan bertanya, adakah pangsa pasar untuk menjual teater. Fauzi Robbani pernah berkata, teater butuh pemaknaan bijak dan apresiasi brilian. Jadi, penikmat teater adalah orang

bertalenta seni tinggi. Tak banyak itu.

Harapan lain, aku tak lagi sepi dan bingung jika hendak menonton teater. Penikmat, pemerhati, dan peminat teater pun tak perlu ke Tegal, Pekalongan, atau Semarang untuk menghilangkan kehausan. Jadi, tak muskil bukan menghidupkan seni teater di Pemalang? (53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA