logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 April 2007 BUDAYA
Line

Jalan Tengah Prof Djarwo

SESAAT sebelum diskusi ''Persembahan untuk sang Guru'' di Ruang E-103 Fakultas Sastra Undip, Jalan Hayam Wuruk 4, Semarang, Sabtu (7/4) malam, moderator Mulyono Sendang memperdengarkan rekaman suara seorang lelaki dari sebuah tape recorder mini.

''Salam untuk Prof Djarwo. Beliau kawan baik saya semasa SMP. Dari beliau, saya belajar banyak, termasuk menulis puisi. Ya, saya belajar menulis puisi pertama kali dari Prof Djarwo....''

Hingga Sendang mematikan rekaman, puluhan orang yang menghadiri perhelatan yang digagas Komunitas Sendangmulyo, Hysteria, dan Fasindo dan didedikasikan untuk guru besar Fakultas Sastra Undip, Prof Drs Soedjarwo, itu masih menebak-nebak rekaman suara siapakah gerangan? Tak ingin berlama-lama membikin penasaran, Sendang melontarkan keterangan. ''Itu tadi suara Prof Dr Sapardi Djoko Damono, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.''

Tak sedikit hadirin terkesima. Boleh jadi mereka tak menyangka, Sapardi Djoko Damono yang disebut-sebut sebagai salah seorang sastrawan garda depan Indonesia ternyata pernah berguru pada Prof Djarwo.

Apa komentar lelaki berkacamata itu menanggapi pernyataan Sapardi? ''Saya dan Pak Sapardi dulu memang berkawan di SMP. Kami sangat akrab. Kalau beliau mengaku pernah belajar dari saya, pada masa kemudian sayalah yang banyak belajar dari beliau.''

Pernyataan Sapardi menguatkan kesejatian sosok Prof Djarwo. Ya, betapa sebagai pengajar dan sastrawan, dia patut diperhitungkan.

Dalam diskusi, ketiga pembicara yang merupakan murid-murid Prof Djarwo, yakni cerpenis Triyanto Triwikromo, Ketua Jurusan Program Magister Ilmu Susastra Undip Drs Rediyanto Noor MHum, dan antropolog Dr Mudjahirin Thohir MA, mendedahkan hal serupa. Mudjahirin memaparkan puisi-puisi Prof Djarwo sejatinya merupakan pantulan jiwa sang pengarang yang sederhana. Sebagai bukti, dia mengambil contoh beberapa puisi dalam buku kumpulan sajak Persembahan.

Dalam ''Siapa Dapat'', Prof Djarwo menulis: ''Siapa dapat memahami bahasa tanpa kata/siapa dapat membaca tulisan tanpa aksara/siapa dapat mendengar bisikan tanpa suara/siapa dapat menyingkap makna tanpa tanda/siapa dapat menangkap isyarat tak terbaca/Tuhanku, aku tak mampu, aku menjadi semakin dungu.''

Mudjahirin menuturkan dilihat dari perspektif tasawuf, teks itu menyiratkan pengendapan. Sebagai manusia, Prof Djarwo hemat berkata-kata dan mampu mengendalikan ekspresinya.

Triyanto menyebut bahasa dalam puisi Prof Djarwo sebagai bahasa jiwa. Tak ada perumitan atau pencanggihan kata-kata. Jadi, tak butuh teori untuk menangkap makna. Triyanto memaknai teks Prof Djarwo sebagai piknik kata-kata.

''Dari dua kutub kecenderungan penyakit puisi, yakni obskurantisme dan puisi slogan, Prof Djarwo berada di tengah-tengah. Dia memilih jalan tengah yang tak mempertuhankan slogan dan berumit-rumit dalam kata.''

Rediyanto Noor menuturkan lelaki berusia 67 tahun itu sosok lembah manah, rendah hati, dan bersahaja. ''Saya mengenal Prof Djarwo sejak tahun 1970-an. Selama itu belum pernah saya melihatnya duka(marah).'' (Rukardi-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA