| Senin, 09 April 2007 | BUDAYA |
Sahabat Berbingkai SeniHUJAN deras mengguyur. Namun para undangan dan penonton tetap berdatangan ke Studio Mendut, Kabupaten Magelang. Ya, mereka bertemu dalam acara "Temu Sahabat Musikal 5 Gunung", Jumat (6/4) malam. Gubernur Mardiyanto beserta istri, Eko Budihardjo, Darmanto Jatman, Djawahir Mohamad, Sawung Jabo, Nano Tirto, Emha Ainun Nadjib, Oppie Andaresta, dan Triyanto Triwikromo yang menghadiri acara itu menunggu seperempat jam sampai hujan reda. Ketika hujan berubah jadi gerimis, acara pun dimulai. Di atas tanah yang membasah tertabur mawar. Tak ada panggung megah dan tata lampu warna-warni. Semua terkemas dalam kesederhanaan. Cuma ada tenda biru disamping ruang pamer studio. Di tenda itulah acara berlangsung. Pentas pembuka adalah tari rodad, disusul teater dari LSM Sahabat Perempuan Magelang, dan geguritan oleh Padepokan Cipto Budoyo. Lalu, para "sahabat" seniman yang dipanggil, kecuali Emha Ainun Nadjib dan Oppie Andaresta, maju untuk menandatangani prasasti Monumen 5 Gunung. Gubernur Mardiyanto pun larut dalam keakraban. Hampir tak ada jarak di antara mereka. Semua melebur dalam ikatan emosional sebagai sahabat. Bagi, Mardiyanto, peristiwa malam itu sungguh luar biasa. "Hati kita jadi makin dekat," katanya. Tak ada perbedaan antara pemimpin pemerintahan dan seniman. Dia berharap suasana itu tetap ada karena silaturahmi dan persahabatan amat penting. Dia lalu juga menyanyikan beberapa lagu campursari. Tanto Mendut, penggagas acara, menyatakan tak ada proposal dan undangan bersetempel. Cuma ada SMS. Namun kekuatan persahabatan membuat mereka hadir untuk mengekspresikan seni. "Ibaratnya ini revolusi caping gunung. Semua berbaur dalam keakraban sebagai sahabat dalam bingkai kesenian dan suasana pedesaan," katanya. Musikus yang menetap di Australia, Sawung Jabo, mengusung konser akustik "Lorong Sunyi". Pemilik nama asli Muhammad Johansyah itu mengajak lima musikus pengiring. Mereka adalah Abdi Prasetyo (gitar), Firman Sitompul (celo), Budi (biola), Aria (biola, seruling), Ucok Hutabarat (biola). Sang istri, Susan Piper, pun bernyanyi. Kemudian, Oppie Andaresta membaca puisi. Pada pengujung acara, kelompok seni truntung dan rodad berkolaborasi dengan Nano Tirto. Tiupan flute Nano yang dibalut kerancakan suara musik truntung menjadi harmoni perkusi yang apik. Penonton menambah ingar harmoni musik dengan tiupan terompet dan seruling yang dibagikan panitia secara gratis. Dan, kemeriahan itu menjadi klimaks bagi para sahabat seniman. (Sholahuddin al-Ahmed-53) |