logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 April 2007 PANTURA
Line

Pentas Cak Nun dan Kiai Kanjeng

Ribuan Pengunjung Larut dalam Shalawat

JANGAN sebut Emha Ainun Najib jika tak bisa mengusik jiwa dengan ekspresi seninya. Bersama Grup Musik dan Gamelan Kiai Kanjeng, budayawan yang akrab dipanggil Cak Nun itu mengaduk-aduk jiwa ribuan warga Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Kiai Kanjeng yang kini diperkuat dengan Novia Kolopaking, istri Cak Nun, Jumat (30/3) malam memungkasi rangkaian kegiatan Gelar Kesenian Daerah dan Peringatan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW.

Pentas dibuka dengan lantunan shalawat yang kemudian dilanjutkan medley lagu dan musik Persia, Jawa, dan Barat. Dimulai dengan irama patriotisme dalam lagu "Padamu Negeri", tiba-tiba melompat ke irama syahdu "You're wish me up" yang dinyanyikan dengan penuh penjiwaan oleh Novia Kolopaking.

Artis yang pernah populer memerankan tokoh Siti Nurbaya kemudian melemparkan kembali ke irama rancak lagu daerah "Angin Mamiri" sebelum kemudian ke irama Persia dengan lantunan Shalawat Nabi. Diakhiri dengan lengkingan suara Cak Nun dengan lagu "Imagine" yang populer dinyanyikan John Lenon.

Demokratisasi

Sajian Kiai Kanjeng malam itu seperti ingin mengajarkan demokratisasi dalam bershalawat dan mengekspresikan cinta kepada Nabi. Cak Nun juga menuruti permintaan lagu dari para pengunjung, seperti "Tombo Ati" dan "Ruang Rindu", lagu milik Letto, grup musik yang digawangi Noe, anak Cak Nun. Novia Kolopakingpun menyanyikan dengan total lagu yang dipopulerkan anak tirinya itu.

Cak Nun tetaplah Cak Nun yang lekat dengan kalimat nakalnya. Para pemimpin, kata dia, harus memperhatikan syair dalam tembang Jawa "Gundul-gundul Pacul".

"Bupati adalah pemegang amanat rakyat seperti yang diwujudkan dalam kalimat nyungi-nyunggi wakul. Jika bupati sak geleme dhewe, wakul bisa ngglimpang dan nasi milik rakyat tak bisa dimakan," tandasnya.

Cak Nun juga juga memaparkan pentingnya perilaku yang mengharapkan rida Tuhan yang disimbolisasikan dengan masjid dan bukan hanya keuntungan materi saja sebagaimana disimbolkan pasar.

"Jadi, semuanya bisa mikir sendiri ya, kalau wajah DPR yang meminta laptop itu wajah masjid atau pasar?" ungkapnya disambut tepuk tangan para pengunjung.

Kiai Kanjeng mengakhiri pementasan dengan doa bersama Habib Luthfiy Ali bin Yahya, Bupati Pekalongan Hj Siti Qomariyah, dan Ketua DPRD Asip Kholbihi.

Habib Luthfiy yang juga Ketua MUI Jateng, sebelumnya menyumbangkan lagu hasil karyanya. Lagu bertemakan nasionalisme dan kerukunan bangsa itu diiringi dengan keyboard yang dimainkannya sendiri. (Muhammad Burhan-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA