logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 April 2007 WACANA
Line

Reposisi Peran Kades di Purworejo

  • Oleh Rulianto

SUHU politik lokal Kabupaten Purworejo meninggi. Pasalnya 147 desa di Purworejo Pilkades digelar. Ini artinya akan ada pergantian kepemimpinan. Momentum strategis untuk menata kembali desa agar mampu memberikan kesejahteraan masyarakat. Sampai saat ini dalam kenyataannya kehidupan di desa belum banyak memberikan kesejahteraan secara utuh.

Contoh sederhana, dalam hal pekerjaan misalnya, masyarakat yang usia produktif justru menghilang dari peredaran, karena sulit mencari lapangan pekerjaan yang sesuai "selera" di desa. Mereka pergi ke kota yang cukup banyak menawarkan pilihan pekerjaan, meski dengan keahlian yang kurang spesifik - untuk tidak mengatakan terbatas.

Bagaimanapun juga kita tidak terlepas dari pusaran keras globalisasi, kejamnya kapitalisme, derasnya laju informasi, serta semakin gilanya tren, mode dan budaya pop yang banyak menjangkiti anak-anak remaja.

Memelihara tradisi yang baik tentu boleh-boleh saja, tapi terjebak pada tradisi yang seolah-olah saklek, serba pasti, serba paling benar dan ra kena diowah-owah, bukanlah sikap yang arif. Bagaimanapun juga budaya bukanlah wahyu yang dijamin kebenarannya, sedikit atau banyak tetap menyimpan sisi-sisi kelemahan.

Sedikit ada penambahan atau dihilangkan sebagian dalam upaya reformulasi tradisi agar melahirkan tradisi yang lebih baik tentu sah-sah saja.

Dalam upaya menjelaskan tentang term tradisi, budayawan WS Rendra memaparkan penjelasan yang menarik, bahwasanya; Tradisi adalah kebiasaan bersama di dalam masyarakat manusia yang secara otomatis akan mempengaruhi aksi-reaksi dalam kehidupan sehari-hari para anggota masyarakat itu. Sedangkan sumber kebiasaan itu adalah tata nilai dan cita rasa hidup.

Di sini tata nilai berkaitan dengan pengertian tentang baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas, adil-tidak adil, dan halal-tidak halal yang semuanya bersumber pada agama kepercayaan, mitologi dan ideologi yang berkembang dalam masyarakat. Sedangkan citarasa kaitannya dengan pilihan naluriah di dalam hal kepuasan pancaindera dan kepuasan perasaan yang terbentuk oleh ingatan akan pengalaman yang berabad-abad dalam bergaul dengan alam lingkungan tempat tinggal.

Selanjutnya, ketika tata nilai dan cita rasa adalah isi halaman yang membentuk tradisi maka pengetrapannya berwujud etika, citarasa, sopan-santun, basa-basi, ekspresi seni bentuk-bentuk upacara di dalam kehidupan, cara berpakaian, cara menghias diri dan cara memasak makanan.

Kades Strategis

Kaitannya pilkades dengan tradisi yang sudah mengakar di masyarakat; dalam konteks ini jabatan kepala desa adalah sebuah jabatan strategis dan mempunyai nilai pengaruh yang kuat dalam memberikan pencerahan pada masyarakat, meski dalam komunitas masyarakat ada para sesepuh yang dalam batas tertentu masih kukuh mempertahankan tradisi. Tapi status kepala desa cukup memberi posisi tawar yang tinggi dalam upaya pendekatan kepada masyarakat atau sesepuh desa untuk berembuk bersama untuk kemajuan bersama.

Di sinilah peran signifikan seorang kepala desa teruji, seperti yang diungkapkan Jefferson James dalam bukunya Thinking In The Future Tense, bahwa seorang pemimpin yang hebat mempunyai karakter,; Satu, memiliki keterampilan perspektif. Maksudnya dengan kecerdasannya ia mampu melihat dari sudut pandang yang tidak pernah dipikirkan orang banyak,

Dua, dalam bahasa fisika, mampu mengubah energi potensial menjadi energi kinetik,

Tiga, memahami dan mengapresiasi berbagai macam kecerdasan,

Empat, apresiatif terhadap berbagai keunggulan, mampu membaca zaman dan memanfaatkan teknologi.

Dalam upaya pemanfaatan tekhnologi Sunaryo, 26 tahun adalah satu contoh tentang seorang pemuda yang menginginkan perubahan hadir dalam dirinya dan juga masyarakat di desanya.

Ketua Gabungan Pemuda Terampil Kreatif Didesa Muneng, Kecamatan Pilang Kenceng, Madiun Jatim ini, telah mendapat sebuah gelar pengusaha sukses di bawah umur 30 tahun oleh Global Youth Entrepreneurship Forum, pada 26 November tahun lalu.

Sunaryo dinilai mampu bisa memberdayakan pemuda desa dan memanfaatkan tekhnologi informasi. Pengusaha yang berpromosi lewat internet ini memiliki anggota sekitar 35 pengusaha, usaha yang dikembangkan sangat bervariatif di antaranya; ternak tokek, kripik pisang, paket wisata, keripik jahe dll.

Potensi alam dan lingkungan sebenarnya telah memberikan peluang yang luar biasa, melimpah ruahnya alam yang ada di sekitar kita selayaknya telah memberi kesempatan pada kita untuk terus berinovasi. Tapi jiwa wirausaha memang tidak milik setiap orang, wirausahawan yang mampu mengubah sumber daya fisik, alam dan manusia atau yang mampu memecahkan masalah dengan kreatif, bersifat positif terhadap kerja tangan teknik dan benda.

Semua itu tidak hadir secara instan, seketika, dan tanpa proses. Berangkat dari sinilah seorang Kepala Desa diharapkan mampu membangun sebuah tradisi yang positif dan produktif, berdaya guna dan bermuara pada keahlian (kompetensi).

Tradisi seharusnya sinergis dengan kebutuhan hidup kita, tradisi yang bermuara pada pemborosan waktu, dan ekonomi, sikap hidup pasif, nrimo dalam batas yang berlebihan, inefisiensi waktu dengan masih percaya dengan hari-hari keramat, waktu - terlarang tanpa dasar yang kuat justru akan menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan yang sebenarnya.

Budaya, sekali lagi, adalah sejumlah tata nilai yang bisa bersumber dari wahyu, tapi bukan wahyu itu sendiri, segala upaya ikhtiyar dari manusia untuk menafsirkan wahyu yang terekam dalam simbol-simbol tradisi tetap bersifat relatif, artinya upaya-upaya untuk melakukan perubahan sesuai konteks zaman adalah sah - sah saja, selama tidak bersebrangan sumber yang sesungguhnya. Begitulah.(11)

-- Rulianto AMF, warga Wirun, Kutoarjo, Purworejo


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA