| Senin, 02 April 2007 | NASIONAL |
Tradisi Keagamaan NU Jadi Target KritikSEMARANG- Nahdlatul Ulama (NU) dengan kekayaan tradisi keagamaan, budaya, dan sosial saat ini menjadi target negara barat, Amerika Serikat, dan kelompok fundamentalis Timur Tengah. Menurut cendekiawan NU Ahmad Baso, barat dan kelompok fundamentalis melalui jaringannya di Indonesia sama-sama ingin mengubah tradisi keagamaan yang selama ini dijadikan acuan NU. ''Oleh kelompok liberal, tradisi NU dijadikan target atau sasaran kritik, termasuk pendidikan pesantren, kiai, dan kitab kuningnya,'' kata pengarang buku NU Studies itu dalam bedah buku tersebut di Semarang, Sabtu (31/3). Kelompok-kelompok Islam garis keras yang banyak disokong negara-negara Timur Tengah kaya minyak, menurut Baso, juga menganggap tradisi NU penuh dengan kemusyrikan, takhayul, dan kurafat. Kedua kelompok itu sama-sama tidak mau terikat dengan kiai yang katanya feodal dan seperti dewa yang disembah-sembah. Mengingat ada kesamaan target, Baso menduga, pendekatan dua kelompok tersebut sama-sama bersumber dari satu desain tunggal. Sebab semua pendekatan ini menempatkan NU dalam posisinya sebagai objek. ''Mereka sama-sama mengeksploitasi basis keagamaan dan fondasi sosial komunitas NU,'' kata dia. Menurutnya, sudah saatnya nahdliyin menelaah NU dalam konteks globalnya, karena dalam konteks ini ormas Islam terbesar di Indonesia ini menjadi target sejumlah proyek dari luar, Timur Tengah maupun Barat, terutama AS. Dicontohkan, sekelompok orang yang meledakkan Gedung WTC pada 11 September 2001 bukan orang Indonesia, tapi orang Timur Tengah. ''Mestinya, kampanye AS melawan terorisme dan promosi Islam moderat diarahkan ke Timur Tengah. Tetapi AS justru datang juga ke Indonesia. Jadi apa kepentingannya datang ke Indonesia. Di sinilah kalangan kiai dan pesantren penting membuka konteks dari kampanye perang melawan terorisme dan promosi Islam moderat,'' ujarnya. Perlawanan Ideologi Baso juga menuding Ulil Abshar Abdala dan Masdar Farid Masudi, yang besar dalam komunitas dan tradisi NU, merupakan penumpang kesekian dari gerbong kereta besar kolonialisme dan imperialisme. Pemikiran kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dimotori Ulil, kata dia, sebagai fundamentalisme neoliberal. Sebab sudah bermain-main ayat untuk sesuatu yang politis dan ideologis. Sementara itu, NU harus melakukan perlawanan kepada ideologi terorisme. ''Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU sangat strategis untuk melakukan perlawanan ideologi terorisme di Indonesia,'' kata kader muda NU, Ali Anshori. Direktur Semesta Institute Semarang itu menyatakan bahwa bangsa Indonesia yang majemuk dan plural tidak bisa dipaksakan memakai satu idiologi saja. Perjuangan melalui kekerasan tidak bisa dibenarkan oleh siapa pun. Menurut dia, NU bisa meramu himpunan tradisi, pencerahan dan kritisisme, yang berakar dalam khazanah kognitif dan praksis umat beragama di nusantara. (G17-60) |