| Senin, 02 April 2007 | NASIONAL |
kisah Mengenang Chrisye (2)Mengubah Konsonan Keras Jadi Lembut
PROSES menjadi diri sendiri bukanlah perjalanan ringan dan mudah bagi seorang Chrisye. Apalagi di tahun 1970-an, pilihan menjadi pemusik dianggap sebagai langkah paling konyol, tak bermartabat, tak intelek, dan tidak bermasa depan. Akan tetapi apa daya, pilihan sang legenda itu ternyata bukan menjadi sarjana atau menjadi orang kantoran. Jati diri Chrisye adalah musik. Bahkan sampai memutuskan berhenti kuliah demi musik. Itulah pilihan Chrisye. Dia sempat mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia memang lebih memilih kuliah demi rasa simpatinya yang begitu dalam terhadap perjuangan ayahnya, Laurens Rahadi. Tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam, keinginan berangkat ke New York untuk manggung selama satu tahun, juga tak mampu dibendungnya. Perang batin tersebut membuat Chrisye kemudian sakit. Gauri, salah seorang sahabat dekatnya memahami persoalan yang dihadapi Chrisye. Tetapi menjelang berangkat, Gauri terus menyemangati Chrisye. ''Lu boleh sakit sekarang, tapi kalau sudah sembuh, tiket lu masih ada,'' kata Gauri, pemetik gitar Gipsy itu yang akhirnya berangkat bersama Adjie Bandi (biola dan saksofon), Lulu (saksofon), Rully Johan (keyboard), Keenan (drum). Keberangkatan Gipsy Band membuat atmosfer lingkungan rumah Chrisye kembali sepi. Dia merasa telah ditinggalkan rekannya begitu jauh. Sampai suatu hari ayahnya menghampiri. ''Benar kamu ingin ke New York?'' Chrisye mengangguk takut. ''Kuliah?'' ''Saya nggak punya minat di situ, Pi.'' ''Masa depan kamu?'' ''Musik''. Laurens tak bicara apa-apa ketika meninggalkan Chrisye sendiri. Sampai suatu hari tiba-tiba ayahnya kembali muncul di kamarnya. ''Chris kalau kamu mantap, berangkatlah.'' Christian yang memang mendapatkan panggilan manis Chrisye dari keluarganya ini karuan saja berjingkrak-jingkrak kegirangan. Belakangan dia tahu dari ibunya bahwa ayahnya beberapa hari terakhir kerap berdiskusi dengan rekan-rekannya. Mereka membicarakan keinginan Chrisye untuk bermusik. Akhirnya dalam kegembiraan yang luar biasa, Chrisye ditemani Pontjo Sutowo berangkat ke New York. Manggung selama setahun penuh di sana membuat Chrisye kemudian sadar, musik ternyata bisa menjadi gantungan hidup. Sejak itulah lelaki pendiam itu menyerahkan seluruh hidupnya kepada musik. Awal tahun 1973 Chrisye berangkat ke New York. Kembali ke tanah air di penghujung tahun yang sama. Di kota itu bersama bandnya, Chrisye menyanyikan lagu-lagu Top 40 dengan cara yang sama persis dengan penyanyi aslinya. Sambutan luar biasa diterima setiap mereka manggung. Di tahun itu sebuah band manggung di luar negeri tentu menjadi sesuatu yang membanggakan. Karena itu bersama bandnya, Chrisye begitu menikmati malam-malam luar biasa itu. Sampai suatu ketika, tiba-tiba dia sadar, tepuk tangan itu tidak seutuhnya diberikan pada bandnya melainkan karena lagu yang dibawakan. Gipsy adalah band yang membawakan lagu orang lain. Kendati mulai diusik kegelisahan semacam itu, mereka tetap bertahan dengan pemikiran telah dibayar. Sekembali ke Jakarta, mereka mulai kasak-kusuk untuk membuat lagu sendiri. Guruh Sukarnoputra, teman sekelas Gauri, mulai diminta terlibat dalam proyek mereka. Saat itu Chrisye juga mulai menulis lagu sendiri. Pada tahapan ini pula Chrisye mulai menemukan warna vokal yang menjadi ciri khasnya. Ketika masih manggung di New York, Chrisye bisa mengubah suaranya supaya terdengar persis seperti penyanyi asli. Berteriak agar suaranya mirip vokalis Rolling Stone. Tetapi sekembali dari New York dia terpana mendengarkan suara aslinya sendiri yang halus, lembut dan empuk. Dia kemudian mencari trik agar vokal lembutnya menjadi kuat dan berenergi. Chrisye mengutak-atik lirik lagu. Bagian yang berkonsonan keras diubah dan dicari ganti dengan yang lebih lembut. Misalnya ibu diganti mama. Cinta menjadi asmara dan seterusnya. Formula ini kemudian dia pakai sepanjang karirnya menyanyi. Diskusi lirik lagu dengan rekan-rekannya bisa dilakukannya selama berhari-hari. Selain itu Chrisye juga belajar pernafasan. Karakter vokalnya yang lembut akan menonjol dengan teknik pernafasan maksimal. Suara yang keluar memang terkesan tidak powerfull tetapi kelembutannya yang keluar justru sangat berenergi. Itulah cikal bakal warna vokal Chrisye yang dikenal hingga saat ini. Suara yang khas ditemukannya dalam fase ini. Setelah itu Chrisye kembali berangkat ke New York. Kali ini bersama Abadi Soesman, Dimas Wahab, Ronny Makasutji, dan Broery Marantika. Nama grup pun berubah, bukan lagi Gipsy melainkan The Pro's. Tetapi perjalananan kali ini diwarnai duka luar biasa di keluarga Chrisye. Di pertengahan tahun 1975, Chrisye mendapat telepon dari Jakarta yang mengabarkan Vicky, sapaan sayang untuk sang adik Vicktor Rahadi, meninggal. Luka dalam di perutnya akibat kecelakaan beberapa tahun sebelumnya ternyata telah merenggut nyawanya. Kondisi emosi Chrisye benar-benar jatuh. Tetapi dia tetap bertahan hingga masa kontrak habis. Sepanjang perjalanan Amerika-Jakarta, Chrisye tak henti-hentinya menangis. Sisa tahun itu pun dilaluinya dengan kesedihan yang luar biasa. Dia lebih banyak berdiam diri di kamar, sampai-sampai ibunya memintanya untuk kembali bermusik agar kesedihan sedikit berkurang. Saat itu Indonesia mulai marak tumbuh band baru, antara lain The Mercy's, Panbers, Koes Bersaudara, dan Bimbo. Di tahun itu pula kemudian Chrisye mulai terlibat dalam pembuatan proyek Guruh Gipsy. Proyek itu menjadi sebuah album fenomenal yang hingga kini barangkali belum tertandingi. Menggabungkan musik diatonik dan pentatonik. Tak menghasilkan uang, tetapi menghasilkan semangat bermusik yang luar biasa. Berkat Guruh Gipsy pergaulan musik Chrisye makin luas. Suaranya pun mulai dikenal. Pada akhir tahun 1976 lagu Lilin Lilin Kecil meledak di pasaran. Itulah kali pertama Chrisye menyanyikan lagu pop Indonesia. Lagu karya James F Sundah itu adalah salah satu pemenang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang digelar radio Prambors. Awalnya Chrisye sempat menolak menyanyikan lagu itu. Sys NS, orang paling sibuk di radio itu tak lelah membujuknya agar bersedia membawakan lagu tersebut. Di mata Sys, hanya Chrisye-lah yang mampu membawakan lagu itu dengan baik. Suaranya yang halus sangat cocok dengan lagunya yang dahsyat. Ternyata feeling Sys tepat. Lagu itu menjadi sangat populer dan terus menerus diputar di radio-radio. Ibunya menikmati lagu itu dari radio. Lagu itu juga telah mengangkat namanya ke jenjang popularitas. Sukses Lilin Lilin Kecil membuat industri rekaman mulai menghampiri Chrisye. Di tahun 1977 Chrisye bersama Yockie Suryoprayogo merekam album Jurang Pemisah. Sayang album itu ditanggapi biasa-biasa saja. Sampai kemudian dia dihubungi Erros Djarot yang mendapat proyek membuat soundtrack film. Jadilah album Badai Pasti Berlalu yang sangat melegenda, menyusul filmnya yang juga mendapat sambutan luar biasa dari publik. Album itu kemudian direkam ulang dan belum lama ini remake-nya diluncurkan dengan penyanyi-penyanyi muda. Sejak itu satu demi satu album Chrisye dirilis di pasaran. Setelah ''Jurang Pemisah'' (1977) ditahun yang sama disusul ''Badai Pasti Berlalu''. Selanjutnya ''Sabda Alam'' (1978), ''Percik Pesona'', ''Puspa Indah Taman Hati'' (1979), ''Pantulan Cinta'' (1981), ''Resesi'' (1983), ''Metropolitan'', ''Nona'', ''Sendiri'' (1984), ''Aku Cinta Dia'', ''Hip Hip Hura'' (1985), ''Nona Lisa'' (1986), ''Chrisye Terbaik'' (1987), ''Jumpa Pertama'' (1988), ''Pergilah Kasih'' dan ''Album Slow Cinta Chrisye'' (1989), ''Sendiri Lagi'', ''Best of Chrisye'' (1993), ''Akustic Chrisye'' (1996), ''Kala Cinta Menggoda'' (1997), ''Best of Chrisye vol II'', ''Badai Pasti Belalu'' (re-record) (1999), ''Best Cinta'' (2000), ''Konser Tur Legendary'' (2001), ''Dekade'' (2002), ''Senyawa'' (2004), ''Chrisye by Request'' (2005), dan ''Duet by Request'' (2006). Hampir semua album diterima oleh publik pecinta musik. Itu lantaran Chrisye selalu mencari sesuatu yang baru di setiap album barunya. Bukan hanya kawan untuk berkolaborasi yang dicarinya dengan sangat teliti, tetapi yang paling penting adalah konsep baru untuk dilempar di pasaran. Itulah rahasia kesuksesannya selama ini, termasuk merekam kembali lagu-lagu yang telah dikenal di eranya masing-masing dalam album ''Dekade''. Album itu tidak hanya berisi sebuah lagu baru ciptaan Pongky Jikustik yang dianggap sebagai lagu mewakili era paling kini, tetapi juga berisi lagu-lagu yang populer di tahun 1940-an hingga tahun 2000-an. Album itu dirilis tahun 2002. Konsep yang berbeda dilakukannya lagi di album ''Senyawa'' (2004) yang mengajak sejumlah musisi muda. Konser tunggal juga digelar. Konser tunggal pertama digelar di tahun 1994. Itu merupakan konser tunggal pertama penyanyi Indonesia di Plenary Hall Jakarta Convention Center. Konser itu kemudian juga diboyong ke Surabaya, Solo, dan Bandung. Selanjutnya di tahun 2002 Chrisye menggelar konser Dekade yang spektakuler dilihat dari efek panggung, tata cahaya, dan kreativitas pertunjukan. Meski demikian, menjadi populer ternyata tidak selalu identik dengan menjadi kaya. Chrisye justru harus jungkir balik dan berakrobat menata ekonomi rumah tangganya bersama sang istri Damayanti Noor. Beruntung, Chrisye menikahi mantan sekretaris Guruh yang paham bagaimana dunia pertunjukan memberikan finansial kepada para pelakunya. Yanti, panggilan akrabnya, adalah istri yang kuat mendampingi Chrisye, terutama bagaimana mengelola rumah tangganya hingga sepi dari gosip. (Tresnawati-46) | ||||