| Senin, 02 April 2007 | SEMARANG |
Peluang Kerja Perawat di Saudi Belum DimanfaatkanKENDAL- Meski ada iming-iming gaji cukup tinggi, tawaran kerja di rumah sakit milik Pemerintah Arab Saudi ternyata belum banyak dimanfaatkan oleh lulusan akademi keperawatan di Jateng. Berdasarkan data dari Bappeda Kendal dan PT Amri Margatama, PJTKI yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi, dari kuota 100 orang pada 2006 hanya terisi lima, sedangkan 2007 dengan kuota 80 orang, sampai awal April belum ada peminat. Menurut Kasub Bid Tenaga Kerja Transmigrasi Kependudukan dan KB Bappeda Kendal Hadi Suryanto SE, tenaga perawat sangat dibutuhkan Pemerintah Arab Saudi. Jateng pada 2006 mendapat kuota 100 orang yang terbagi untuk Semarang 70 orang, Kendal (15), dan Batang (15). H Gozali, perwakilan PT Amri Margatama untuk Jateng yang berkantor di Pegandon mengatakan, Pemerintah Arab Saudi meminta kepada Indonesia untuk mengirim tenaga perawat sebanyak-banyaknya. Perusahaannya ditunjuk untuk merekrut dan mengirim tenaga tersebut. "Tapi, untuk 2006 dari Semarang hanya diperoleh empat orang. Itu pun mundur satu. Dari Kendal ada dua dan Batang kosong, sehingga yang bisa dikirim hanya lima orang. Padahal, di Jakarta dan Jawa Barat peminatnya sangat banyak," kata Gozali. Dia menjelaskan, kuota 2007 sebanyak 80 orang. Hingga akhir Maret, saat habisnya izin perekrutan yang diberikan ke perusahaannya, belum ada peminat. Namun, izin itu masih akan terus diperbarui. Ingin Bukti Secara kedinasan, Hadi Suryanto baru-baru ini melakukan "studi peluang pengiriman TKI ke luar negeri bagi penciptaan kesempatan kerja guna mengatasi pengangguran dan kemiskinan". Antara lain diperoleh data, penduduk usia kerja di Kendal 642.478 orang (2005), dengan angka pengangguran 41.761 orang, di antaranya pengangguran terbuka (sama sekali tak kerja) 3.299 orang. "Dengan sempitnya lapangan kerja di negeri sendiri, menjadi TKI di luar negeri bisa menjadi solusi mengatasi pengangguran," katanya. Menurut Gozali, menjadi perawat di Arab Saudi sebetulnya cukup menghasilkan. Gaji yang ditawarkan 460 dolar Amerika/bulan, mendapat fasilitas perumahan, antar-jemput, dan masa libur 45 hari dalam satu tahun. "Saat libur gaji tetap dibayar, bahkan dapat tiket pulang ke Indonesia. Tapi, rupanya orang masih ingin bukti penuturan langsung orang-orang yang sudah sukses kerja di sana," tuturnya. (C23-37) |