| Senin, 02 April 2007 | SEMARANG |
Tak Berdaya Hadapi Rendahnya Harga GabahGURAT kekecewaan masih terpancar di wajah Sapardi, petani penyewa lahan warga Desa Ngembak, Purwodadi, Grobogan, saat ditemui belum lama ini. Penyebabnya, panen padi yang dihasilkan, kurang sesuai dengan harapan. Dari lahan sewa seluas 11.000 m2, dia seharusnya bisa menikmati panen sekitar 9 ton. Namun, kali ini dia harus puas menikmati hasil panen tidak lebih dari 8 ton. Dia menduga, kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu penyebab berkurangnya hasil panen. Dia mengaku hasil panen tidak mencukupi. Sebagai gambaran, untuk menyewa lahan seluas itu, Sapardi harus membayar Rp 9,5 juta per tahun. ''Gabah sebanyak 8 ton saya jual sekitar Rp 16,8 juta, dengan catatan harga gabah Rp 2.100 per kilogram,''katanya. Setelah dikurangi biaya sewa lahan, traktor, pembelian pupuk, tenaga penggarap, perawatan sawah, dan ongkos lainnya, keuntungannya sangat sedikit. Total pengeluaran bisa mencapai Rp 15 juta, sehingga hasil akhir yang dia terima Rp 1,8 juta untuk satu kali masa tanam. Yang dimaksud satu kali panen, lanjutnya, adalah sekitar tiga bulan. Jadi, keuntungannya hanya berkisar Rp 600.000/bulan. Keuntungan itu kembali dipakai untuk membiayai sejumlah keperluan menjelang musim tanam kedua. Dia menjelaskan, petani seakan tidak bisa menikmati keuntungan. Terlebih lagi, ditambah dengan sikap para pedagang yang senang mempermainkan harga gabah. Selama ini harga gabah selalu rendah dan tidak sesuai harapan. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak, karena hasil pertaniannya selalu dijual dengan sistem ''tebas'' yang mirip dengan ijon. ''Memasuki masa panen gabah saya jual semua. Saya tidak mempunyai sisa untuk dibawa pulang. Uang yang tidak seberapa dipakai untuk kebutuhan hidup dan persiapan tanam padi berikutnya,'' katanya. Sedangkan Margono, petani penyewa lahan warga Kuripan, Purwodadi, nasibnya lebih parah jika dibandingkan dengan Sapardi. Dari luas lahan 1.100 m2 yang disewanya, hasil panen sangat jauh dari harapan. Dia mengaku sangat kecewa. Apalagi, hasil panennya ditawar sangat rendah. ''Harga gabah yang murah sangat merugikan petani. Harapan kami harga gabah bisa di atas Rp 2.500 per kilogram. Kalau bisa mencapai angka itu, kami senang,'' tuturnya. Kusno, petani Candisari, Purwodadi, mengatakan petani seringkali tidak berdaya di hadapan pedagang. Apalagi, petani penggarap lahan yang sejak awal memang telah punya banyak utang sebelum mengerjakan sawah yang disewa. ''Pameo yarnen, dibayar yen bar panen umumnya akan terus berlaku bagi para petani penyewa lahan,'' ujarnya. Beralih Sementara itu, petani Krangganharjo, Toroh, Haryanto mengatakan, petani berkeinginan mengembangkan usaha pertanian lain di samping menanam padi. Antara lain mengembangkan tanaman tomat, bawang merah, semangka, dan palawija. Menurut dia, selain masa tanam cukup singkat, kebutuhan masyarakat terhadap sejumlah hasil pertanian tersebut masih cukup tinggi. ''Setelah harga gabah tidak menentu, memang ada keinginan semacam itu. Hanya saja, perlu modal dan lahan yang sangat luas,'' ungkapnya. Kepala Bagian Ketahanan Pangan Ir Muhammad Hidayat mengakui persoalan dilematis yang dihadapi petani saat panen raya tiba. Karena itu, dia meminta agar Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) yang terbentuk di sejumlah desa, melakukan upaya pemberdayaan kepada petani. Selain itu, diharapkan pembelian gabah petani oleh satgas Dolog terus dilakukan. (Hari Santoso-37) |