| Senin, 02 April 2007 | SEMARANG |
''Gambarnya Kok Bergerak-gerak...''
BERBEDA dengan lomba menggambar pada umumnya, yang objeknya kerap sudah ditentukan. Namun pada lomba menggambar kali ini, betul-betul daya imajinasi anak-anak teruji. Betapa tidak, mereka langsung menggambar dengan objek yang ada di hadapannya. Seperti dilakukan Hamzah (6). Ia terus memelototi sebuah sangkar burung di depannya. Setelah itu, dia torehkan pensil pada selembar kertas putih. Tak jarang dia menghapus kembali, lalu mencoba lagi untuk menggambar. Dia juga beberapa kali mengusap keringat dari kepalanya. ''Mah, mah... ini bagaimana ? Gambarnya kok gerak-gerak terus,'' keluh Hamzah yang melihat banyak burung yang terbang. Namun sang mama yang berdiri tak jauh dari anaknya itu, tetap bergeming. Lain halnya dengan Fadli (7). Meski benda yang dihadapinya sama-sama sangkar burung, tetapi dia tidak menggambar. Fadli harus merangkai kata-kata puisi dengan objek yang ada di depannya itu. Beberapa kali dia harus berpikir sejenak. Setelah itu, dia kembali meneruskan rangkaian kalimat-kalimatnya. Itulah sekelumit lomba gambar dan membuat puisi dengan objek langsung di halaman Sekolah Alam Ar Ridho, Bukit Kencana Jaya, Tembalang, Minggu (1/4). Masih banyak objek yang dijadikan bahan menggambar atau menulis puisi oleh anak-anak baik TK maupun SD di Kota Semarang. Objeknya pun bervariasi, mulai taman bunga, aquarium, andong beserta kudanya serta sepeda onthel yang sengaja ditaruh di halaman sekolah. Teknologi Sederhana Tak hanya gambar dan membuat puisi yang dilombakan. Ada pula presentasi teknologi sederhana. Pengunjung bisa dibuat berdecak kagum olehnya. Dengan perlengkapan ala kadarnya, anak-anak membuat teknologi sederhana. Seperti dilakukan Muhammad Jundar Al Basyir, siswa kelas V SDI Nurul Sunah, Tembalang ini. Dia membuat alat pendeteksi banjir. Peralatannya hanya sebuah baterai, transistor, resistor, dan kabel, dia rangkai alat-alat itu. Jadi deh alat pendeteksi banjir. ''Kalau air meluap, tembaga ini akan terkena air, otomatis langsung diterima transistor sehingga alarm berbunyi,'' tuturnya. Menurut Panitia Lomba, Wahyudi, sengaja lomba tersebut dilakukan dengan on the spot atau melihat objek langsung. ''Setidaknya, lomba kali ini untuk mengurangi dominasi orang tua. Kami memberikan kebebasan pada anak-anak dalam menentukan corak, bentuk atau warna dalam lomba itu. Orang tua hanya menyaksikan saja,'' katanya. (56) |