logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 April 2007 SEMARANG
Line

Banyak yang Masih Tinggal di Gubuk

JUMINTEN (41) tak kuasa membendung kesedihan, saat melihat reruntuhan bangunan rumahnya di Cakrawala Baru. Air matanya meleleh, mungkin karena mengingat peristiwa pembongkaran rumah warga secara massal setahun silam.

Dia dekap sang putra Muhammad Bambang Darmono (1) yang berada di gendongannya. Bocah lelaki itu lahir dua pekan menjelang penggusuran. Sebagai pengingat, namanya diambil dari nama mantan juru bicara warga Cakrawala Baru yang saat itu berada di tahanan.

Tangan kanan perempuan itu menyangga pincuk berisi nasi tumpeng yang belum sempat disantap. ''Kalau melihat reruntuhan rumah, saya selalu sedih. Sejak digusur setahun lalu, rumah yang dibangun dengan hasil jerih payah bertahun-tahun itu, sekarang musnah,'' ucap Juminten di sela acara peringatan satu tahun penggusuran Cakrawala Baru, belum lama ini.

Lebih memilukan, hingga setahun pascapenggusuran, nasib dia dan puluhan warga eks Cakrawala Baru yang lain belum beroleh kejelasan. Relokasi yang menjadi harapan tak kunjung direalisasikan. Sampai sekarang, Juminten sekeluarga masih menempati gubuk sempit di bawah jembatan layang Jalan Arteri Yos Sudarso. ''Tidak terasa, sudah setahun kami tinggal di gubuk. Kami juga tidak tahu, sampai kapan ini akan berlangsung. Semuanya tidak jelas.''

Data yang ada, dari 342 keluarga eks Cakrawala Baru, sekitar 60 keluarga tinggal di gubuk-gubuk, baik di bawah jembatan, maupun di tepi Kali Ronggolawe. Sisanya tinggal di rumah saudara dan kontrakan.

Selama ini relokasi memang diupayakan. Sesaat setelah eksekusi bangunan, warga diminta menempati perumahan Palir Sejahtera di Kampung Palir, Kelurahan Wates, Ngaliyan. Namun karena lokasinya terpencil, mereka memilih hengkang.

Tawaran tanah di lokasi tak jauh dari perumahan itu juga tak direspons warga. Selain terpencil, mereka meragukan status tanah yang dibagikan untuk relokasi tersebut.

Tak lama kemudian, kembali datang tawaran relokasi di daerah Meteseh, Tembalang. Lagi-lagi warga menolak. Alasannya, tanah yang disediakan itu rawan banjir dan jauh dari pusat kota.

Sebagian besar warga mencari nafkah di kawasan pusat kota. Jika dipindah ke daerah pinggiran, mereka merasa kesulitan, terutama terkait besarnya biaya transportasi yang harus dikeluarkan. (Rukardi-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA