| Senin, 02 April 2007 | SEMARANG |
Di Jepang, Sukawi Presentasi AngkutanSEMARANG- Wali Kota Sukawi Sutarip akan mempresentasikan masalah transportasi berkelanjutan pada pertemuan para Wali Kota di Kyoto, Jepang, 24-25 April 2007. Pertemuan itu akan diikuti para Wali Kota dari 10 negara ASEAN. Pada pertemuan itu, Indonesia diwakili tiga Wali Kota, yakni Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya dengan prakarsa Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Kepada Suara Merdeka, Sukawi menjelaskan, persoalan traffic management merupakan topik utama pertemuan itu. Selain itu, juga akan dibahas masalah polusi yang diakibatkan oleh persoalan transportasi. ''Pada akhir pertemuan, ada semacam deklarasi dari para Wali Kota tentang traffic management dan akibat-akibat yang ditimbulkannya,'' terang Sukawi. Terpisah, Pengamat Transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan, dipilihnya Kota Semarang, Yogyakarta dan Surabaya karena ketiga kota itu memiliki masalah pada sistem transportasinya. ''Tentunya ke depan, dari hasil pertemuan itu diharapkan ada perubahan kebijakan dari masing-masing kota terhadap sistem transportasinya. Terutama penekanannya pada masalah lingkungan, sosial dan ekonomi,'' kata dia. Pertemuan itu, sengaja digagas agar nantinya tercipta transportasi ramah lingkungan. Untuk saat ini, polusi udara lebih banyak disumbang dari transportasi. Dengan melihat angka pertumbuhan kendaraan pribadi, tentunya menjadi keprihatinan semua negara akan pertumbuhan kendaraan pribadi. ''Jadi, hasil nantinya pertemuan itu adalah mengarah pada masalisasi angkutan. Bagaimana bisa membuat masyarakat mulai beralih ke angkutan, agar kendaraan pribadi tidak banyak. Apalagi dalam penilaian Adipura 2008, masalah transportasi masuk menjadi salah satu kriteria,'' lanjutnya. Lakukan Survei Untuk menunjang penilaian kriteria dan indikator transportasi berkelanjutan, nantinya sebagai bahan presentasi Wali Kota Semarang, Unika Soegijapranata ditunjuk KLH untuk melakukan survei. Penelitian itu akan dilakukan di pinggir jalan (road side interview) dan survei lalu lintas di jalan-jalan dalam kota terutama pada empat titik jalan masuk ke Kota Semarang. ''Wawancara kami kepada pemilik sepeda motor, mobil pribadi, mobil niaga, pejalan kaki, pangguna angkutan, PKL dan juru parkir,'' lanjut dia. Djoko berharap penjelasan Wali Kota mengenai konsep transportasi berkelanjutan, sepulang dari Kyoto ada perubahan dari kebijakan Pemkot. ''Karena pemberangkatan menggunakan uang negara, tentunya harus ada pertanggungjawaban pasti. Jangan sampai di Jepang, Wali Kota hanya jalan-jalan saja,'' pintanya. (H9,H37-56) |