| Senin, 02 April 2007 | SEMARANG |
Pembunuhan Manajer KaraokePelaku Teman Kencan KorbanSEMARANG - Hanya berselang 2 hari, kasus pembunuhan Sutiyo alias Yoyok (42), warga Perumahan Srondol Bumi Indah Blok K-7, diungkap Tim Resmob Satreskrim Polwiltabes Semarang. Pelakunya adalah Ahmad Abrar Aditya W (25), teman kencan korban. Warga Jl Ulin II No 30, Kelurahan Beji, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang ditangkap, Jumat (30/3), di tempatnya bekerja di sebuah kios Hp di Kawasan Genuk. Motif pembunuhan manajer Top Pop Karaoke Hotel Rinjani diketahui karena sakit hati. Sebab pelaku menginginkan sebuah telepon genggam, tetapi tidak pernah dipenuhi Yoyok. Terakhir, Abrar meminta uang Rp 60.000 untuk biaya berguru di Malang, hanya diberi janji oleh korban. ''Berangkat dari itulah, akhirnya pelaku sakit hati. Dia mulai merencanakan membunuh korban. Dengan membawa sebilah pisau yang dibelinya tak jauh dari hotel, dia melampiaskan dendamnya,'' kata Kasatreskrim AKBP Agus Rohmat, Minggu (1/4). Cepatnya keberhasilan polisi mengungkap kasus pembunuhan tersebut, karena keterangan saksi-saksi di lapangan langsung mengarah kepada pelaku. Diungkapkan, sudah dua kali Yoyok dalam berkencan selalu bersama Abrar dan selalu di tempat yang sama (Hotel Semarang-red). Pertama pada Desember 2006, setelah itu Rabu (28/3) lalu. ''Karena sudah menjadi langganan, orang hotel pun sudah menghafalnya,'' ujarnya. Kepada polisi, Abrar mengakui semua perbuatannya. Hanya saja, ada perbedaan mengenai jumlah tusukan pada tubuh korban. Pelaku mengaku menusuk satu kali di bagian ulu hati korban. Tetapi dari hasil olah TKP didapatkan empat luka tusukan, yakni dua di bagian dada, satu di leher dan satu di pelipis kanan. ''Saya minta uang Rp 60.000, hanya diberi janji-janji saja. Saya jengkel, akhirnya pisau yang sudah saya bawa langsung saya tusukkan,'' katanya. Setelah menikam Yoyok, dia lalu menghantamkan kursi ke kepala korban. Tidak puas dengan tindakannya itu, dia juga menendang tubuh yang sudah bersimbah darah itu. ''Tetapi setelah melihat Yoyok tak berdaya, saya malah takut sendiri. Lalu saya minta izin ke penjaga hotel untuk membawa korban ke Klinik 24 jam. Ternyata tempat itu tak bisa menerimanya, lalu saya bawa langsung ke RS Panti Wilasa Jl Dokter Cipto,'' katanya. Di sana dia melihat teman kencannya tewas. Dia kemudian balik lagi ke hotel. Penjaga hotel memerintahkan agar membersihkan darah yang ada di lantai. Setelah itu Abrar melarikan diri. Dia sembunyi di tempat bekerjanya, namun polisi bisa menemukan jejaknya. (H37,H21-18) |