| Senin, 02 April 2007 | SEMARANG |
SUDUT PANDANGKurang Gerak, Tulang KeroposSEMARANG- Bergerak, bagi individu sehat dianggap wajar. Padahal gerak, bukanlah proses yang sederhana. Hal itu diungkapkan Prof dokter Amin Husni PAK (K), SpS (K) MSc, saat penerimaan jabatan Guru Besar Anatomi FK Undip di Auditorium belum lama ini. Dalam acara itu Amin menyampaikan pidato pengukuhannya berjudul Sine Motu, Vita Est Sine Laetitia: Anatomia Est Ubicumque, Anatomia Non Est Nequaquan. Menurutnya, gerak melibatkan banyak sistem tubuh, serta proses elektrofisiologis dan biokimiawi. ''Hal itu mempengaruhi dan dipengaruhi kondisi tubuh dan kejiwaan seseorang.'' Dampak Negatif Setiap hari tubuh butuh untuk bergerak dan jika tak dipenuhi, akan berdampak negatif yakni menurunnya kebugaran jasmani. Kekurangan gerak juga dapat menimbulkan tulang keropos (osteoporosis). ''Karena itulah, tanpa gerak, hidup tiada ceria.'' Gangguan gerak dapat terjadi akibat kerusakan otot, tulang atau rangka, sendi dan syaraf. Penderita stroke, juga mengalami gangguan gerak berupa berkurang atau menghilangnya kemampuan menggerakkan bagian atau ruas tubuh. Adapun penderita parkinson, menunjukkan adanya gangguan gerak seperti gemetaran, kelambatan gerak, atau tuna gerak seperti wajah tanpa mimik, jarang berkedip, dan sebagainya. Dalam kajian itu Amin ingin membuktikan, bahwa Ilmu Anatomi dapat merambah dan menyumbangkan peran keilmuannya, di bidang kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Kajian anatomi tidak lagi terbatas pada dataran gross anatomy atau makro-anatomi, tapi bisa lebih mendalam hingga tingkat biomolekuler, dan bidang klinik. ''Anatomi tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana,'' tandasnya. (H11,H13-74 ) |