logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 April 2007 INTERNASIONAL
Line

Tentara Uganda Tewas di Mogadishu

MOGADISHU - Memasuki hari keempat, pertempuran antara kaum militan dan pasukan Somalia berlangsung makin sengit. Seorang personel tentara perdamaian dari Uganda menjadi korban baku tembak di Mogadishu kemarin.

Komite Palang Merah Internasional menyatakan, puluhan warga sipil tewas dan ratusan lainnya luka-luka dalam pertempuran terbesar selama lebih dari 15 tahun terakhir itu. Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban dalam pertempuran tersebut.

Gelegar bom mortir, ledakan granat bertenaga roket, dan suara tembakan senjata mesin membuat warga Mogadishu panik. Ribuan orang telah mengungsi dari ibu kota Somalia itu.

Pasukan pemerintah Somalia dibantu oleh tank, helikopter, dan tentara Etiopia. Mereka menyerbu daerah basis gerilyawan muslim di pinggiran Mogadishu. Namun mereka mendapatkan perlawanan sengit.

Tentara Uganda yang dikirim bulan lalu sebagai bagian dari pasukan perdamaian Uni Afrika (UA) justru terperangkap dalam pertempuran dahsyat tersebut. Seorang prajurit Uganda pun tewas. Itu merupakan korban tewas pertama di pihak pasukan perdamaian UA yang bertugas memulihkan keamanan Somalia.

"Pasukan kami sedang menjaga kompleks kepresidenan ketika tiba-tiba datang serangan mortir bertubi-tubi. Seorang prajurit kami tewas dan lima lainnya terluka," kata juru bicara militer Uganda Mayor Felix Kulayigye di Kampala.

Pertempuran di Stadion

Dalam serangan sebelumnya, gerilyawan melukai dua tentara Uganda. Insiden itu membuat negara-negara Afrika lainnya berpikir dua kali untuk mengirim pasukan mereka. Namun Burundi, Malawi, Ghana, dan Nigeria tetap berjanji mengikutsertakan pasukan mereka dalam misi perdamaian UA.

Kemarin, lingkungan di sekitar stadion sepakbola di Mogadishu berubah menjadi medan tempur. Korban terbesar tentu saja warga sipil. Rumah-rumah sakit kewalahan menampung pasien.

Repotnya lagi, banyak dokter tidak bisa keluar rumah karena gerilyawan dan pasukan pemerintah bertempur di berbagai ruas jalan kota itu. Pertempuran itu sekaligus menghancurkan kesepakatan gencatan senjata antara tentara Etiopia dan para kepala suku Hawiye yang merupakan klan dominan di kawasan itu.

Sumber-sumber keamanan menjelaskan, UA berusaha mengadakan lagi perundingan antara pasukan Etiopia dan kepala-kepala suku setempat. Namun kedua belah pihak tampaknya sudah tidak saling percaya.

Suku Hawiye mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Liga Arab untuk menekan Etiopia agar menghentikan serangan. "Yang terjadi di kota ini adalah pembantaian terhadap warga sipil," kata juru bicara suku Hawiye.(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA