logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 April 2007 BANYUMAS
Line

Warga Mulai Bersedia Turunkan Harga Tanah

  • Penanganan Jalan Longsor

BANJARNEGARA- Masalah tingginya harga tanah untuk penanganan jalan raya Sokaraja-Pagentan yang longsor di Dusun Windusari sedalam lima meter dengan panjang 50 meter lebih, mulai sedikit terurai.

Warga yang sebelumnya mematok harga tinggi untuk tanah di sekitar lokasi longsor yang akan dibangun jalan baru, mulai menurunkan tawaran. Jika semula harga satu meter persegi tanah kebun itu dihargai Rp 250.000, kini mulai turun antara Rp 100.000 dan Rp 150.000.

''Tiga warga yang dulu mematok harga tinggi, kini mulai mengendur. Dua warga sudah bersedia untuk menjual tanahnya seharga Rp 100.000/meter persegi. Namun satu warga lainnya mematok harga Rp 150.000/meter persegi,'' kata Pejabat Sementara (Pjs)Kades Sokaraja, Kecamatan Pagentan, Muhakim, di rumahnya, Jumat (30/3).

Meskipun demikian, mereka masih mematok tinggi harga tanaman di atas tanah mereka. Untuk satu rumpun pohon salak Rp 250.000, demikian pula untuk satu pohon albasia, baik besar maupun kecil. Bahkan, untuk satu pohon duku mereka meminta dibayar Rp 3 juta. Alasannya, setiap panen duku mereka biasanya menjualnya Rp 600.000.

''Pertimbangan warga, dalam waktu lima tahun ke depan harga albasia bisa tinggi. Selama lima tahun ke depan salak juga akan memberikan hasil yang besar pula,'' ungkapnya.

Lahan milik tiga warga Desa Sokaraja yang akan digunakan untuk jalan baru adalah 34 m milik Ny Edi, 88 m milik Sastro, dan 12 m milik Karjono. Panjang jalan baru sebagai pengganti jalan lama yang longsor diperkirakan mencapai 134 meter.

Berdasarkan informasi warga, Pemkab belum bersedia membayar tanah tersebut, karena harganya masih terlalu tinggi. Pemkab menawar Rp 75.000/meter persegi.

Ongkos Naik

Berkaitan dengan belum dimulainya penanganan jalan Sokaraja-Pagentan yang putus total, sebagian warga Desa Sokaraja yang biasa pergi ke Pagentan kini mulai mengeluhkan tingginya ongkos angkutan. Ongkos angkutan Sokaraja-Pagentan yang biasanya hanya Rp 1.500 sekali jalan atau pergi-pulang Rp 3.000, kini naik dua kali lipat.

Akibat jalan terputus, ongkos angkutan dari Desa Sokaraja sampai jalan putus di Dusun Windusari ditetapkan Rp 1.000. Dari situ penumpang jalan kaki menyusuri jalan setapak di lokasi longsoran hingga ujung jalan berikutnya. Di tempat tersebut sebuah angkutan menuju Pagentan siap mengantarkan dengan ongkos Rp 2.000.

Sekarang, sekali jalan warga menghabiskan uang Rp 3.000 atau pergi-pulang Rp 6.000. Bagi mereka hal itu menyusahkan, sebab ongkos angkutan makin mahal. Karena itu, warga meminta pembangunan jalan segera direalisasikan. (H25-66)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA