logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 Maret 2007 PANTURA
Line

Menikmati Batik Malaysia di Pekalongan

MUSEUM batik di Pekalongan memang tidak sama seperti museum lainnya. Di bekas gedung peninggalan Belanda itu, tidak semua koleksi bisa dipamerkan sekaligus. Namun pada waktu tertentu, batik yang dipamerkan diganti dengan jenis lain.

"Hari ini, kami mengganti semua batik yang sudah terpasang dengan batik-batik produk dari Jawa dan Malaysia," ungkap Kurator Museum Batik Asmara Damais kepada Suara Merdeka, kemarin.

Dia mengungkapkan, untuk memasang batik koleksinya, tidak mungkin dilakukan sekaligus. Sebab, ada lebih dari 800 koleksi yang dimiliki baik kuno maupun masa kini.

Untuk itu, agar semuanya bisa dipamerkan, pemasangannya dilakukan secara bergiliran. "Idealnya setiap empat bulan dilakukan penggantian. Namun sejak museum itu diresmikan Presiden SBY, Juli 2006, baru sekarang diganti," ujarnya.

Dalam penjelasan kepada wartawan, Asmara menunjukkan beberapa batik produksi Malaysia, Cirebon, Pekalongan, Garut, Sragen, Yogyakarta, Imogiri, Batang dan lain-lain.

Kalah Promosi

"Kalau dibandingkan antara batik Indonesia dan Malaysia, kita bisa melihat sendiri kualitasnya. Batik kita lebih rumit dan halus," ujar Asmara.

Itu menandakan, lanjutnya, batik kita lebih bagus. Namun, mengapa pemasaran batik Malaysia lebih bagus? Itu semata-mata karena promosi dan pemasarannya dibantu pemerintah.

Karena itu, jika ada orang mengatakan batik Malaysia lebih bagus, itu tidak tepat. "Ini buktinya," ucapnya dengan menunjuk batik yang dibeli dari Kelantan, Malaysia.

Mengenai Museum Batik ini, dia mengakui, sudah banyak orang yang tertarik mengunjungi. Bahkan, ada juga yang datang dari luar negeri.

"Sampai kini, sudah puluhan orang asing, seperti dari Belanda, Jepang, Argentina, Finlandia yang mengunjungi," ujarnya. Kemarin, W Dokenberg bersama istrinya dari Belanda juga datang mengunjungi museum kebanggaan orang Pekalongan itu.

Mereka selain tertarik pada batik juga pada gedung museumnya yang merupakan peninggalan Belanda. (Trias Purwadi-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA