| Rabu, 28 Maret 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAKepercayaan, Inti untuk Meyakinkan KorutSetelah lama dibujuk dan ditekan, Korea Utara akhirnya menyatakan bersedia mengakhiri program nuklirnya. Sebagai imbalan, Pyongyang mendapatkan bantuan ekonomi dan jaminan keamanan dari Amerika Serikat dan sekutunya (Jepang dan Korea Selatan). Namun perjalanan tidak berlangsung mulus. Washington belum berhasil mencairkan aset Korut yang dibekukan oleh AS di sebuah bank internasional pada puncak ketegangan isu nuklir. Para pe-mimpin Korut pun marah. Jika dalam waktu dekat tidak juga dicairkan, bisa saja terjadi langkah mundur dalam upaya meredakan ketegangan berkepanjangan di kawasan Asia Timur. Kegagalan Washington itu sangat memprihatinkan. Entah apa penyebabnya, tetapi kepercayaan Pyongyang dapat sirna terhadap maksud Amerika dan sekutunya. Kalau pencairan aset itu saja tidak berjalan mulus, apalagi realisasi janji-janji muluk yang telah dikemukakan. Siapa pun, kalau dibohongi, pasti meradang. Sebaliknya, siapa pun yang ingkar janji tentu tidak lagi bakal dipercaya. Kalau kepercayaan telah hilang, dialog lebih lanjut mustahil dapat diadakan. Mubazirlah upaya-upaya pendekatan yang sulit selama bertahun-tahun. Bola sekarang di tangan Amerika. Mau dikemanakan bola tersebut, mereka yang menentukan. Beberapa pekan sebelum jatuh sanksi PBB untuk Iran, Pemimpin Libia Muammar Gaddafi telah mengingatkan Korut dan Iran agar mewaspadai mulut manis negara-negara Barat yang dimotori AS. Selama puluhan tahun Libia menjadi negara muslim yang memusuhi Barat. Negara itu dikenai sanksi dan dikucilkan, gara-gara tidak mau menyerahkan dua warganya yang dituduh sebagai otak peledakan pesawat PanAm pada 1982. Ratusan orang, kebanyakan warga Amerika, tewas ketika pesawat itu jatuh di Skotlandia. Setelah ditekan terus-terusan, tahun lalu Gaddafi menyerahkan dua warganya untuk diadili di Belanda. Apa imbalan yang didapat sang kolonel dan rakyatnya? Pencabutan sanksi dan pengucilan internasional. Sanksi dan pengucilan itu membuat perekonomian Libia berantakan. Namun Gaddafi mendapati perbaikan hubungan dengan Amerika tidak serta merta membuat negerinya lebih baik. Perusahaan-perusahaan asing, khususnya AS, tanpa dia sadari telah menguasai ladang-ladang minyak yang tadinya dikelola sendiri. Dia merasa dibohongi. Ternyata lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya. Itulah yang mendorongnya untuk mengingatkan Iran dan Korut. Dia tidak ingin kedua negara tersebut bernasib sama seperti Libia. Kita tentu senang jika tidak ada negara nuklir baru - setelah India dan Pakistan - di Asia. Apalagi Korut masih dalam keadaan berperang dengan Korsel. Bahwa 38.000 serdadu Amerika tetap bercokol di tapal batas Korut - Korsel, itu menunjukkan Semenanjung Korea berpotensi menjadi salah satu titik konflik berbahaya di dunia. Nuklir Korut juga sangat menakutkan Jepang. Maka tidak bijak jika langkah menuju peredaan ketegangan dinodai sejak awal. Terbinanya saling percaya adalah unsur terpenting bagi kelangsungan suatu hubungan baik. Jika sebaliknya, bakal berjalan tidak mulus, bahkan terancam putus. Sejarah buram jangan terulang. Lima tahun lalu, Korut menyatakan mengakhiri program nuklirnya. AS, Korsel, dan Jepang pun membantu beras untuk rakyat Korut yang kelaparan akibat kekeringan dan banjir. Pyongyang juga bakal mendapatkan reaktor air ringan (yang tidak mungkin dipakai untuk pengembangan bahan senjata nulir) bagi PLTN-nya. Sayang, pertukaran itu gagal. Bantuan dihentikan, gara-gara Korut dicurigai masih memperkaya uranium. Artinya, Pyongyang pun kali ini mesti jujur dengan membiarkan pemantau internasional memverifikasi secara bebas reaktor-reaktornya. Ya, semua pihak memang harus jujur dan terbuka. |