logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 Maret 2007 KEDU & DIY
Line

Batik Pekalongan Kuasai Pasar Yogyakarta

BELANJA batik merupakan salah satu tujuan wisatawan mengunjungi Yogyakarta selain dolan ke berbagai objek wisata seperti keraton, museum, pantai, gunung. Namun jangan salah sangka kalau ternyata batik yang ada di pasaran sebagian adalah produk Pekalongan.

''Boleh dibilang memang batik Pekalongan yang menguasai pasar di sini,'' ujar Sri Handayani, salah seorang penjaga kios batik di Pasar Beringharjo.

Dia yang sudah menjadi penjaga kios bertahun-tahun lamanya mengungkapkan, sudah beberapa tahun terakhir ini batik dari kota di pantai utara tersebut menyerbu pasar. Maklum, menurutnya, harga lebih murah dan motif bervariasi. Motif Yogyakarta tak bisa mengimbangi kecepatan pergantian model seperti Pekalongan.

Supinah, pemilik kios di pasar yang sama mengakui sekarang ini batik buatan Kota Budaya dan sekitarnya sepi. Kalaupun ada pencari batik lokal biasanya untuk acara-acara tertentu misal punya hajat atau kegiatan lain.

''Bukan cuma sepi batik lokal, tapi dagangan saya juga sepi karena sekarang banyak saingan terutama yang di depan-depan pintu masuk sudah ada kios-kios,'' keluh dia yang sudah 25 tahun berjualan di Beringharjo.

Memang, begitu memasuki pasar, pengunjung sudah disambut pedagang di sisi utara dan selatan gang. Kebanyakan tidak tahu kalau di gang-gang kecil di sekitar tempat itu juga terdapat kios-kios batik dan harganya pun juga murah.

Tak Peduli

Wisatawan tampaknya tak peduli batik di sana sebagian besar bukanlah produk lokal. Yang penting, mereka berbelanja di Yogyakarta dan pulang membawa oleh-oleh, toh juga tak tahu bagaimana motif Yogyakarta dan bukan.

''Di sini banyak pilihan, motif dan warnanya juga bagus-bagus, bervariatif, buatan sini atau bukan saya sendiri ngga tahu,'' ujar Anton, pelancong dari Sukabumi.

Deni, pedagang batik juga mengatakan sebagian besar pembeli tak pernah menanyakan batik mana, yang jelas mereka lebih menyukai motif atraktif bukan konservatif yang mengesankan busana orang tua zaman dulu. Pasalnya, pembeli lebih banyak anak-anak muda.

''Soal harga, batik dari Pekalongan memang jauh lebih murah sehingga kita bisa mengambil keuntungan agak banyak, maklumlah ramainya kan hanya hari-hari libur tak setiap hari laku,'' paparnya.

Murah, inilah jawaban mengapa pedagang bisa melakukan tawar-menawar dengan pembeli. Tentu saja demikian karena mereka mengambil dari produsen dengan harga murah, menawarkan agak tinggi agar ada kesempatan tawar-menawar.

''Enaknya begitu, kita ambil lebih murah jadi ketika pembeli nganyang masih ada peluang mengambil keuntungan, ngga mepet-mepet banget,'' tuturnya.(Agung PW-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA