| Rabu, 28 Maret 2007 | KEDU & DIY |
Kebumen Terancam Tanah BergerakKEBUMEN - Sejumlah rumah warga di daerah perbukitan Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, Kebumen, saat ini terancam tanah bergerak. Bahkan tiga rumah penduduk tertimpa longsoran bukit setelah hujan terus menerus. Longsoran bukit terjadi Sabtu malam. Satu rumah rusak berat dan tiga lainnya terancam. Tidak ada korban jiwa. Namun warga khawatir karena tanah bergerak itu sudah berlangsung setahun terakhir ini. Desa Watulawang merupakan desa tertinggi di Kecamatan Pejagoan. Geografinya perbukitan berupa tanah cadas serta bebatuan. Desa di utara Pejagoan itu dihuni 1.250 jiwa atau 225 keluarga. Kondisi tanahnya labil. Banyak tanah miring dan di atasnya perbukitan. Bahkan menurut tokoh masyarakat Sugito, tahun 1986 pernah terjadi tanah longsor menutup sejumlah rumah penduduk. Terus Bergerak Menurut Kades Watulawang Sawaun, tiga rumah warga yang tertimpa lonsoran bukit itu milik Mad Dahlan (45) yang dihuni 6 keluarga. Kemudian rumah Sanmurti, Martareja, Wiryantama dan Nasam. Semuanya di RT 8 RW 2 Dukuh Pranji. Petugas PMI Cabang Kebumen dipimpin Subadiyo kemarin mendatangi lokasi desa itu. Subadiyo kaget setelah melihat struktur tanah yang terus bergerak ke arah timur atau turun ke bawah dan ada banyak rekahan tanah. Bahkan di Dukuh Ero di RT 10 RW 2 beberapa tembok rumah retak-retak. Rumah milik Ny Sayidi (46) misalnya, telah miring. Lantainya juga ambles lebih dari 10 cm dan tembok rumah itu telah turun ke bawah. Ny Sayidi mengaku, bila turun hujan deras dan angin di malam hari, dia dan keluarga tak berani tidur di rumah. Biasanya menyingkir ke rumah famili yang lebih aman. Retak-retak di tembok dan rekahan di lantai rumah tersebut sudah diketahui sejak setengah tahun lalu dan terus bertambah. Subadiyo menyarankan warga di dataran tinggi Desa Watulawang itu selalu waspada. Mengingat saat ini curah hujan masih tinggi. Bagi warga yang rumahnya di dekat bukit atau tebing, hendaknya mengamankan diri saat hujan lebat. Desa Watulawang itu di perbatasan Desa Kajoran, Kecamatan Karanggayam dan Desa Condongcampur Kecamatan Sruweng. Warga selama ini hidup dari hasil tanaman di tegalan berupa singkong, tanaman obat seperti temulawak dan kunir. Ada juga hasil tanaman jenetri yang banyak diekspor ke luar negeri. Buah jenetri yang kecil-kecil itu kabarnya diekspor ke Timur Tengah dan India untuk tasbih dan bahan minyak wangi. Meski Watulawang desa miskin, semangat warga membangun desa cukup tinggi. Jalan masuk desa itu sudah dicor sejak tahun 1986. Kendaraan roda dua dan roda empat pun bisa naik sampai perbukitan. (B3-29) |