logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 Maret 2007 BUDAYA
Line

SENIMAN

Pematung Lingkungan

SEJAK berpameran tunggal di eks toko buku Van Dorp, Kota Lama, sekitar empat tahun lalu, nyaris tak terdengar kabar Bowo Kajangan mempresentasikan karya. Ketika itu, dia memajang 18 patung dan instalasi bertajuk "Keperempuanan Malu-malu" yang memperoleh apresiasi positif para penikmat karya rupa.

Menghilangkah Bowo? Tidak, sama sekali tidak. Dia masih tinggal di Semarang. Dan, meski tak seintens dulu, dia masih juga menghasilkan karya.

Sesekali seniman kelahiran Blora itu berpartisipasi pada ecoart, perhelatan kesenian berbasis lingkungan, yang sejak lama menjadi perhatiannya. Sebut saja, Lik Bowo - demikian dia akrab disapa - pernah terlibat pada Forest Art Festival di Randublatung, Blora, yang menyoal eksploitasi hutan.

Beberapa kali dia juga menghadirkan performance art dengan tema tak jauh-jauh dari isu lingkungan. Pada peringatan Hari Bumi, misalnya, seniman jebolan UNS itu dipastikan "unjuk diri" dengan karya.

Belakangan dia sibuk membangun Omah Pring. Begitulah dia menamai rumah bambunya yang artistik di pinggir Kaligarang. Di rumah yang secara administratif masuk wilayah Kelurahan Bendandhuwur, Kecamatan Gajahmungkur itu, itu dia tinggal bersama Ari Sotyarini dan Gagas, istri dan anak semata wayang.

"Tinggal di sini benar-benar terasa berada di tengah-tengah kampung. Bukan cuma suasana yang nyaman, melainkan kultur dan pola hubungan antartetangga juga sangat guyub - sesuatu yang langka di wilayah kota seperti Semarang," ujar Bowo, ketika saya bersambang ke rumahnya, beberapa waktu lalu.

Lusa, Kamis (29/3) malam, di rumah itu akan digelar "Ngudarasa Budaya" bersama pakar seni rupa dari Unnes, Prof Dr Tjetjep Rohendi Rohidi. Tjetjep beberapa tahun belakangan "meninggalkan Semarang" untuk mengajar di Universitas Sultan Edris, Malaysia.

"Katakanlah semacam reuni Bowo dan Prof Tjetjep. Pameran terakhir Bowo, empat tahun lalu, diulas Prof Tjetjep," seloroh Sucipto HP, pemrakarsa dialog bertopik "Strategi Kebudayaan: Perbandingan Malaysia-Indonesia" itu.

Ya, itu soal dialog. Bagaimana dengan Bowo? Tenang saja, walau tak seintensif dulu, Bowo masih berkarya. Datanglah ke rumahnya, yang disesaki karya-karya patungnya. Ada yang tertempel di gedek, nyanthel di ambang jendela, atau dibiarkan nglemprak di halaman rumah.

Namun, sepertinya itu patung-patung lama. Patung-patung yang dulu dipamerkan di Van Dorp atau tempat lain. Lantas, mana yang baru, Lik? (Achiar M Permana-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA