logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Maret 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Korupsi Lagi...

Saya mencermati beberapa Surat Pembaca. Sdr Sudarjo (Purwokerto) menulis, korupsi bukan karena gajinya kurang. Juga tulisan Sdr Erlangga Chandra (Banyudono) menyatakan : ''Tetapi kenapa mengurusi korupsi, pembalak liar, penyedot minyak dan lainnya tidak bisa tuntas..tas...tas..''.

Celakanya lagi tulisan Sdr Amar Makruf (Jepara): '' Ada yang mengatakan negara kini berdasar hukum rimba, siapa kuat layak berkuasa. Tak peduli dengan siapa meski masuk golongannya sendiri. Dia bebas sergap sana, sergap sini tak pernah takut sanksi hukum''.

Yang ingin saya tanyakan apakah tulisan-tulisan tersebut sampai kepada yang bersangkutan. Bila jawabannya ya, maka saya urun rembug agar yang bersangkutan mulai sekarang bertobat. Beberapa media telah memberitakan kiamat sudah dekat dengan adanya planet yang saling berbenturan.

Juga saya ingatkan bila saatnya meninggal dunia, jatah Anda hanya kapling ukuran 2 x 1 meter atau sering disebut rumah masa depan type 21. Kekayaan yang didapat dari korupsi tidak akan dapat dibawa. Mari, tidak usah merasa rugi kalau tidak korupsi.

Surat At Thalaq/65 ayat 2-3 menyatakan:''Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan jalan keluar baginya dan Dia akan memberikan rezeki kepadanya dengan tiada terkira. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia mencukupkan keperluannya. Mari hindari korupsi yang tercela tersebut agar selamat dunia dan akhirat.

Bambang Sugiyono

Jl Truntum VI/2, Semarang

Dana BOS dan

Pemanfaatannya

Menanggapi Surat Pembaca Drs H Marno Semarang tentang pengalokasian dana BOS ke Madin, saya setuju. Semua tahu, madrasah/sekolah diniyah identik dengan sekolah penanaman moral untuk mencetak kader bangsa yang berakhlaqul karimah. Saya pengelola Madin benar-benar kesulitan memperoleh dana operasional.

Terlebih saat akan semester. Belum lagi untuk tenaga pengajar walau rata-rata mereka ikhlas berjuang untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Saya berharap Depag atau siapa saja yang punya otoritas dana BOS agar Madin juga diusulkan mendapatkan dana BOS. Sekolah Madin kini masih dipandang sebelah mata, dianggap lebih penting sekolah formal seperti SD,SMP,SMA.

Untuk memungut SPP sekitar Rp 2.000 s.d Rp 3.000 saja harus memberikan penjelasan ekstra hati-hati, karena salah informasi bisa jadi orang tua melarang anaknya sekolah ngaji. Padahal sekolah ngaji sekarang tidak bisa disamakan seperti tempo dulu yang hanya belajar Alquran bersama ustadz di surau.

Ngaji sekarang tidak berbeda jauh dengan sekolah formal, ada semester, rapor dan kenaikan kelas serta wisuda. Contoh di Yayasan Wakaf Darussalam Kemiri Subah Batang, sekolah ngaji (Madrasah Diniyah) diawali dari TPQ, Madrasah Diniyah Awwaliyah(4 tahun) setingkat SD. Dilanjutkan Diniyah Wusto (3 tahun) setingkat SMP, Diniyah Ulya (3 tahun) setingkat SMA.

Masuknya siang hari selepas sekolah formal. Jadi di masa mendatang mereka yang tidak mengenyam pondok pesantren, tetap bisa membaca kitab kuning dan mengerti hukum islam secara baik dan sempurna dengan biaya terjangkau. Dengan dana BOS untuk Madin, sangat membantu dan mengurangi beban. Saya ingin para guru diniyah juga dipikirkan, toh mereka ikut mencerdaskan anak bangsa bahkan mencetak generasi penerus yang berakhlakul karimah, generasi yang hormat kepada para orang tua dan dibimbing untuk menjadi generasi yang alergi terhadap KKN.

Ali Muhyidin SE

Kemiri Brt Rt 5/Rw 2 Subah, Batang

***

Buat Apa Urusi

Negara Lain?

Sungguh menyedihkan sekali ketika saya menonton teve, banyak demo di beberapa daerah. Entah dilakukan para buruh, pegawai dan juga mahasiswa.

Narnun, kesedihan saya menjadi mendalam ketika melihat sekelompok organisasi Islam di Universitas Negeri Semarang turun kejalan memprotes salah satu negara tetangga karena berulah mengusik kedamaian salah satu negara islam.

Berbagai kecaman dilontarkan, bahkan sampai membakar bendera di jalan yang kemudian diinjak-injak.

Tindakan tersebut memang perlu guna menunjukkan solidaritas kita antarsesama. Namun di balik itu, saya menyayangkan juga. Ketika bangsa sendiri mengalami berbagai musibah besar yang tak henti henti dan tak tahu kapan berakhir, masih sempatnya mereka mengurusi negara lain yang belum tentu mendengar suara kita.

Padahal kita saat ini membutuhkan kesolidaritasan tinggi agar beban menjadi ringan. Seperti istilah "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing". Jika ditanya, sebenarnya apa yang kita berikan untuk Ibu Pertiwi? Selama ini hanya makian, saling mencari kambing hitam, memprotes dan hal negarif lain. Apakah sudah menjadi warga yang balk dan memberikan yang terbaik. Lalu, buat apa ngurus negara lain yang tak bersinggungan langsung kalau negara sendiri belum kelar dari permasalahan. Sungguh kecewa dan kecewa hati ini.

Deni Setiawan

Lab Jurnalistik Unnes Semarang

***

Paguyuban PMB

Saya berharap banyak dengan terbentuknya wadah bagi para pedagang mie bakso dapat menjadi jembatan dalam menyejahterakan anggotanya. Sebagai pedagang bakso, saya juga terpanggil dan ingin memiliki apa yang menjadi cita cita PPMB (Paguyuban Pedagang Mie Bakso).

Untuk itu mohon kepada pengurus memberi sedikit gambaran apa dan bagaimana program kerja, keanggotaan dan lainnya. Sebagai jembatan yang baik bagi para anggota, mari sesama pedagang mie bakso ikut andil menghidupkan perekonomian negeri ini sehingga krisis dan badai segera berlalu.

Mudi

Jl Raya Paninggaran 211, Pekalongan

***

Pergantian Kurikulum

Saya bingung atas kebijakan pemerintah yang terus mengganti kurikulum. Sebenarnya kurikullum dibuat sebagai pedoman pembelajaran siswa dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Namun dalam realisasinya pergantian kurikulum telah membuat pihak sekolah bingung dalam memberikan materi pembelajaran.

Belum lagi bila pihak sekolah salah menafsirkan butir-butir dalam kurikulum. Bukankah hal itu akan membuat tujuannya tidak tercapai. Perlu diingat dalam setiap perubahan, kita tidak dapat menilai berhasil atau tidaknya perubahan tersebut dalam waktu singkat. Butuh proses dan perlu waktu.

Sebaiknya pemerintah tidak mengganti kurikulum hanya dengan melihat hasilnya dalam waktu setahun atau dua tahun. Setiap pergantian pasti membutuhkan buku paket baru. Padahal jumlah buku yang harus diperbaharui dari setiap pergantian kurikulum tidak sedikit. Perlu biaya sangat besar untuk membuatnya.

Bukankah itu termasuk salah satu bentuk pemborosan yang sebenarnya dapat dihindari. Dana yang sangat besar itu dapat digunakan untuk hal lain seperti pembangunan sekolah di tempat terpencil yang lebih bermanfaat. Menurut saya, sebaiknya gunakan salah satu kurikulum yang sama dalam waktu beberapa tahun. Hal itu lebih efektif sebab lebih fokus pada tujuan yang ingin dicapai.

Yenny Kusuma Wijaya

Jl Pringgading 58, Semarang

***

Bulu tangkis Kita

Tahun 90-an merupakan masa keemasan bagi pebulutangkisan di Indonesia. Banyak pemain kita sangat diperhitungkan dunia dan disegani. Contoh, Rudy Hartono, Liem Swie King dan Susi Susanti. Bahkan Rudy Hartono disebut sang maestro karena berhasil menjuarai All England sebanyak 8 kali. Rekor yang sangat sulit dipecahkan.

Dalam tahun - tahun itu pula Indonesia selalu menjadi finalis bahkan juara dalam piala Thomas. Tak hanya itu, bulu tangkis telah memberi sumbangan yang sangat besar dalam setiap perolehan medali baik SEA Games maupun Asian Games saat itu. Namun, apa yang dapat dilihat sekarang?

Menghadapi Malaysia saja sudah cukup kewalahan, apalagi China yang memiliki kekuatan merata di setiap nomor, terutama untuk putri. Apa sebenarnya yang membuat bulutangkis di Indonesia menurun ? Faktor pembibitan dan pembinaan membuat bulu tangkis kita menurun. Pencarian bibit kurang diperhatikan sehingga saat pemain senior akan pensiun, belum ada penggantinya.

Hal ini berbeda dengan China yang meregenerasi pemain secara baik. Untuk menyikapi hal itu perlu peran pemerintah mempopulerkan kembali olahraga yang telah mengharumkan nama bangsa ini. Misalnya dengan mengadakan kejuaraan yang rutin sehingga bibit unggul dapat dibina lebih baik.

Selain itu pelatnas yang selama ini digunakan sebagai tempat latihan perlu diperbaiki termasuk pelatih, sarana dan prasarana, serta gizi yang menjunjang perkembangan atlet. Yang sangat penting, kemauan atlet untuk berusaha latihan rutin.

Saat ini dibutuhkan mental atlet yang tidak mudah menyerah. Dengan mental kuat serta disiplin dalam berlatih, saya berharap bulutangkis Indonesia dapat kembali maju dan mengharumkan nama bangsa.

Yenny Kusuma Wujaya

Jl Pringgading 58, Semarang

***

Ponsel Benq-Siemens

Saya beli ponsel Benq-Siemens seri A 38 asli lewat kantor sales dan costumer care di Jl Piere Tendean 12A Semarang. Petugasnya memberi informasi lengkap termasuk garansi dan harganya. Tetapi karena barangnya kosong, dia menyarankan mencari di counter di mal Ciputra Semarang.

Hari itu juga saya beli di Sentrafone mal Ciputra, tetapi tanggal 19 Februari 2007 lampu keypad 3 dan 6 red-up. Demi keamanan ponsel saya bawa ke Benq-Siemens (kopi terlampir). Petugas menjanjikan 3 hari namun pada hari ke-3 petugas memberitahukan barang akan dikirim ke Surabaya yang perbaikannya butuh waktu 1 bulan.

Ketika saya meminta kompensasi menukar atau meminjam produk lain dan mengembalikan setelah milik saya selesai diperbaiki, petugas menolak. Padahal saya membutuhkan hingga akhirnya ponsel saya ambil kembali pada 22 Februari 2007. Yang saya sesalkan, kenapa perusahaan sebesar ini bisa menjual produk yang ternyata tidak sesuai dengan iklannya.

Ternyata mutu produk yang saya beli tidak sehebat seperti yang selama ini digembar-gemborkan. Jujur saja saya membeli produk ini karena selama ini dikenal "tahan banting". Saya kecewa dan berharap pembaca berhati - hati ketika akan membeli ponsel. Jangan hanya tertarik karena merk atau harga murah.

Ria Wicaksono

Jl Durian Raya 16 Srondol, Semarang

***

Kali Bringinku

Bulan Januari 2006 terjadi tanah longsor di pinggiran Kali Bringin Semarang, mengakibatkan talud dan jalan berpaving di perumahan saya Griya Bringin Asri ambrol sepanjang 100 meter. Akibatnya akses jalan lingkar selatan perumahan hilang serta rnembahayakan rumah warga RT 1, RT 2 serta RT 3.

Warga telah berupaya menggalang dana untuk perbaikan talud dan jalan tersebut, namun mengingat kerusakannya parah, telah meminta bantuan kepada Bapak Lurah Wonosari dan mendatangkan Komisi C DPRD Kota Semarang yang didampingi pejabat DPU serta instansi terkait untuk meninjau lokasi.

Mohon beliau memperjuangkan bantuan perbaikan bagi jalan dan talud yang rusak. Namun sampai sekarang 1 tahun telah berlalu, belum ada tanda-tanda bantuan datang sehingga warga mengharapkan Bapak Wali Kota Sukawi Sutarip memperhatikan dan mendengar kelihan ini. Warga khawatir di musim hujan ini kerusakan akan bertambah parah.

Wiwin Subiyono

Griya Bringin Asri 27 Ngaliyan, Semarang

***

Mohon Sumbangan

Pengurus Majelis Taklim AT-Tawwabin Desa Sengon RT 8/RW 1 Kecamatan Subah, Batang mengetuk hati para pengusaha atau dermawan untuk memberikan sumbangannya. Yang mendesak dibutuhkan saat ini adalah mushaf Alquran dan terjemahannya baik yang baru atau bekas. Bila berupa uang mohon transfer ke Zamroni Mahsun BCA KCP Batang no 2490128592 atau telp 08175059073.

Zamroni Mahsun

Sengon 32 Rt 8/Rt 1Subah, Batang

***

Semangat Pembaharuan

Negara kita sebenarnya berpotensi lebih dari apa yang diharapkan karena punya sumber alam besar dibandingkan yang dimiliki banyak negara di kawasan Asia Tenggara. Apakah tidak malu menatap banyak negara kecil mampu berkembang walau dengan sumber daya yang minim. Mengapa bangsa ini tidak belajar dari situ?

Kemunduran justru diawali berkembangnya para ''tikus'' berdasi sejak orde baru. Mereka dengan santai duduk di tahta yang sebenarnya tidak layak disandangnya. Mereka menyengsarakan jiwa, raga rakyat atau bawahan demi kekuasaannya. Mereka menghancurkan semangat hidup rakyat .

Menebar janji palsu dan sebagai batu lompatan untuk berkorupsi serta mendapatkan kekuasaan semata. Saya juga tidak mencari kesalahan pemerintahan yang sudah terlanjur ini. Memang ada program pemerintah yang sudah berjalan dengan hasil nyata.

Tapi timbul tanda tanya besar, kenapa masih terdapat 39,5 juta rakyat miskin dan 10 juta pengangguran serta masih banyak lagi kasus lain. Saya bertanya apakah rakyat memilih tokoh hanya dengan kepercayaan saja?. Jika tidak, mengapa pemerintah hanya melakukan tugasnya per bagian, padahal rakyat sudah memilih dengan ketotalitasan.

Cobalah para pejabat, jadikan hal itu sebagai acuan depan bukan sebagai kritik pedas. Saya sadar, tugas untuk membawa bangsa lebih maju memang sulit, tapi apa salahnya kalau dikerjakan secara totalitas. Hilangkan ungkapan ''tikus berdasi negara'', jika tak ingin dicap tebal muka oleh rakyat.

Kepada rakyat, mari bantu memajukan negara kita ini, terutama bagi para pembaharu dunia khususnya pelajar. Mari kita memajukan negara dengan hal yang kecil lebih dulu misal belajar lebih keras. Ayo singsingkan lengan baju untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Jangan menganggap hal ini tidak mungkin, karena bisa membuat kita malas-malasan. Membangun negara jangan diasumsikan dalam bentuk fisik seperti gedung, tapi mulai dari dalam diri sendiri yaitu menumbuhkan unsur soladaritas, membantu si lemah yang berkekurangan.

Anthony Novianus S

Siswa SMA Kolese Loyola, Semarang

Manfaat Donor Darah

Keluhan tentang terbatasnya persediaan darah di berbagai UTDC PMI termasuk Kota Semarang tidak bisa serta merta menyalahkan masyarakat terutama usia produktif yang enggan mendonorkan darahnya. Hal ini karena sepertinya sosialisasi fokus orientasinya baru sebatas manfaat bagi orang lain.

Sekali-kali paradigmanya lebih fokus pada kesehatan pendonor sendiri. Setiap penyakit yang ngendon di tubuh dengan jadi donor akan bisa terdeteksi. Dengan peremajaan komponen darah maka menghindarkan kekentalan darah yang akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Akibatnya muncul berbagai penyakit serius seperti jantung, kolesterol, stroke.

Pada kesempatan donor darah di perusahaan saya, petugas tiada henti memberikan info tentang manfaat penting donor darah. Namun dia tidak menyentuh manfaat darah bagi orang lain karena hampir semua telah mengetahui. Dia justru menggambarkan manfaat bagi pendonor sendiri.

Salah satunya menggambarkan kenyataan bahwa umur kaum wanita umumnya lebih panjang daripada pria. Salah satu penyebabnya karena wanita secara rutin melakukan donor darah melalui menstruasi. Kaum wanita pun relatif lebih sehat dibanding kebanyakan pria dan itulah sebabnya banyak terdapat janda daripada duda.

Maka tidak ada jeleknya bila pemkot/pemkab mempertimbangkan untuk mewajibkan donor darah rutin minimal 3 bulan sekali bagi instansi pemerintah maupun swasta, dengan tetap fokus sosialisasi pada kesehatan pendonor. Salah satunya dengan donor darah rutin 3 bulan sekali di PT Apac Inti Corpora yang juga terbuka bagi masyarakat sekitar.

Perusahaan tekstil di Kabupaten Semarang ini pernah menyandang rekor Muri untuk pendonor darah masal terbanyak. Bahkan pada ulang tahun pabrik beberapa tahun lalu pernah mencoba memecahkan rekor Guinness Book of World Records.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA