| Kamis, 22 Maret 2007 | NASIONAL |
SOSOKSeperti Anak Ajaib
PENYAIR kondang Taufiq Ismail tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya terhadap banyaknya anak muda yang berprofesi sebagai wartawan. Saking bangganya, dia menganggap pekerja pers tersebut sebagai anak ajaib. ''Kalian, para wartawan Indonesia, adalah anak-anak ajaib yang mampu menulis dan mengarang dengan kekerasan hatinya. Dengan berlatih sendiri, tidak ada yang mengajari bukan?'' katanya di sela-sela seminar nasional dan kampanye Ayo Giat Membaca di Hotel Quality, Solo, Selasa (20/3). Pria kelahiran Bukittinggi 25 Juni 1935 itu menyatakan, sangat sedikit generasi muda Indonesia yang mampu membuat karangan dengan lancar saat mereka duduk di bangku SD hingga SMA. Lain halnya dengan siswa AMS Hindia Belanda (setingkat SMA) pada masa penjajahan antara tahun 1939 dan 1942. Saat itu, siswa AMS wajib menulis karangan, satu tulisan dalam seminggu. Karangan sebanyak satu halaman itu disetor, diperiksa guru, kemudian diberi angka. Tak hanya itu, masih ada kewajiban membaca 25 judul buku dalam setahun. ''Dengan menulis 36 karangan setahun, 108 karangan selama tiga tahun, tugas menulis makalah dan skripsi saat berada di universitas dilaksanakan dengan merdu dan lancar.'' (Anie R Rosyidah-60) | ||||