| Kamis, 22 Maret 2007 | NASIONAL |
KISAH Teka-Teki Abu Dujana (1)Pernah Jadi Instruktur Kamp NII
Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Mabes Polri, Selasa (20/3) malam lalu menggerebek salah seorang yang paling dicari interpol, Abu Dujana. Ia diduga kuat sebagai pelaku dan perencana teror bom di berbagai tempat di Indonesia. Siapa dia sebenarnya? Inilah laporannya. KABAR tertangkapnya Abu Dujana masih belum pasti. Kalaupun benar, salah satu pelaku aksi teror berhasil diringkus polisi. Namun jika belum, teror-teror kemungkinan akan terus berlanjut karena diduga kaki tangan orang yang pernah menjadi instruktur di Kamp Jamaah Negara Islam Indonesia (NII) di Afghanistan tersebut bakal balas dendam. Nasir Abas, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) dalam bukunya ''Membongkar Jamaah Islamiyah'' menyebutkan orang-orang Indonesia membangun kamp latihan militer di Towrkham, Afghanistan, perbatasan dengan Pakistan. Sejumlah orang Indonesia pernah menjadi instruktur di sana, antara lain Mustapha, Muhirah (hanya sebentar karena tahun 1993 dipulangkan, tak mau memilih Abdullah Sungkar sebagai pimpinan baru). Setelah itu kemudian Nasir Abas, Nuaim, Qotadah, Habib, Tamim. Akademi Militer Masih ada lagi yakni Saad alias Faturrahman Al Ghozi, Abu Syekh dikenal juga sebagai Umar Patek, Baro' alias Mubarak, Abu Dujana, dan Usaid. Tahun 1995 kamp tersebut ditutup karena diserang kelompok Taliban. ''Abu Dujana pernah menceritakan kepada saya, dia orang terakhir yang ditugaskan di Kamp Al Jamaah Al Islamiyah di Towrkham dan melakukan pemusnahan dokumen, perlengkapan agar tidak dirampas kelompok Taliban,'' papar Nasir dalam bukunya. Abu Dujana, masih menurut Nasir, adalah salah seorang dari 22 angkatan Ke-7 Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang masuk tahun 1989. Ke-22 orang itu, Sofyan, Habib, Tamim (ditahan Polri 2003), Zubair (ditahan Polri 2003), Urwah (ditahan Polri 2003), Jabir (tewas saat mempersiapkan bom di Antapane, Bandung), Usaid juga bernama Zainal (tewas di Ambon saat menyiapkan bom rakitan), Umair juga bernama Abdul Ghani, Suramto, Abu Dujana, Qotadah (dikenal dengan nama Ba'asyir ketika di Mindanao, Philipina) Suhail, Ukasyah alias Zuhair, Auf, Qois, Aqil (ketiganya orang Malaysia), Suhaib, Anas, Adi, Dzakwan, T Furqan, T abdul Fattah dan T Abdul Hafiz. Konon, Dujana merupakan salah seorang pengurus Mantiqi Tsani (II) Wilayah Garap Utama terdiri atas daerah, Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Itu pun masih dibagi-bagi lagi, wilayah Sumatera Bagian Utara, wilayah Jabotabek, wilayah Jawa Barat wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara. ''Wilayah Mantiqi II ini berpotensi sebagai Daulah Islam, paling banyak memiliki anggota, paling cepat merekrut, memperoleh simpati dan mudah mendapatkan dukungan masyarakat muslim,'' papar Nasir. Sejumlah media pernah menyebutkan tempat persembunyian Abu Dujana jauh dari permukiman penduduk, di antaranya pernah di kawasan hutan Selaawi, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang. Bahkan, ada kabar dia pernah berada di Wonogiri.(Agung PW,dari berbagai sumber-64) | ||||