logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Maret 2007 NASIONAL
Line

Hance Tewas Bunuh Diri


SM/Surya Yuli
  • Dodi Sumantyawan

SEMARANG-Ada perkembangan menarik dalam penyidikan kasus tewasnya Wakapolwiltabes Semarang AKBP Drs Lilik Purwanto SH MHum. Menurut Kapolda Jateng Irjen Drs H Dodi Sumantyawan HS SH, hasil pengembangan penyidikan Tim Polda dan Polwiltabes, sesuai keterangan saksi kunci, tersangka Briptu Hance Christanto setelah menembak Wakapolwiltabes, diduga melakukan bunuh diri.

''Yang mengatakan seperti itu (bunuh diri-red) adalah saksi kunci. Hanya untuk keterangan lebih lanjut, saksi kuncinya belum bisa menjelaskan secara terperinci,'' tandas Kapolda, Rabu (21/3) sore.

Penegasan tersebut, tentu saja cukup mengagetkan. Itu bila dikaitkan dengan keterangan Kapolda Jateng sebelumnya, yang menyebutkan Hance tewas ditembak sniper Unit Resmob Polwiltabes Semarang.

Selain Kapolda, keterangan yang sama soal tewasnya anggota Unit Pelayanan Pengaduan dan Penegakan Disiplin (P3D) atau Provost, ditegaskan Kapolwiltabes Semarang Kombes Guritno Sigit Wiranto MBA, saat berada di RS Bhayangkara, beberapa jam setelah kasus penembakan pada Rabu (14/3) lalu.

''Pelaku yang menembak mati Wakapolwiltabes, akhirnya ditembak mati anggota Unit Resmob Polwiltabes,'' tandas Kapolwil saat itu kepada sejumlah wartawan yang mengkonfirmasinya.

Tidak Banyak

Kapolda menambahkan, penyidik memang tidak bisa banyak mendapatkan keterangan dari saksi kunci, yakni Aiptu Titik Sumaryati, yang kini masih dirawat di ruang khusus RS Bhayangkara.

Hal itu akibat kondisi kesehatan saksi yang masih mengalami trauma pascapenyanderaan yang dialami dan berakhir dengan penembakan terhadap wakapolwiltabes.

Untuk mendapatkan keterangan kronologi kasusnya yang sejelas-jelasnya dan runtut, memang dari saksi kunci tersebut. Melihat kondisi saksi itu yang labil, pihaknya menginstruksikan ke penyidik agar hati-hati agar tidak memantik traumanya.

Sementara itu, sejumlah penyidik mengatakan, soal dugaan tersangka penembakan melakukan bunuh diri memang sudah diperkirakan sejak awal.

Dugaan tersebut dikuatkan dengan kecurigaan ada sebuah bekas menghitam dan mirip jelaga di dada tersangka. Menurut penyidik jika bekas itu dari sebuah tembakan jarak lebih dari lima meter, maka warna hitamnya tidak kentara.

Sebaliknya jika dari bekas senapan yang dipegang tersangka dan menembakkan ke dada dalam jarak dekat, maka akan muncul bekas jelaga seperti itu.

Mengenai motif kenekatan Hance melakukan penembakan, Kapolda menegaskan kembali semuanya berawal dari rasa kekecewaan karena dimutasi ke Polres Kendal.

Seringkali tersangka mengeluhkan kepada atasan dan temannya. Bila perintah pindah jadi dilaksanakan, tentunya tidak sebanding dengan biaya transportasi, tempat tinggal dan biaya hidup terlalu tinggi.

Masih Militeristik

Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Irjen Pol Prof Dr Farouk Muhammad mengatakan, konsep kepemimpinan di tubuh organiasi polisi masih bersifat militeristik. Konsep militeristik tersebut berdampak pada arogansi pimpinan terhadap bawahan.

Pimpinan masih menganggap jika bawahan adalah pelaksana perintah. Padahal, belum tentu bawahan bisa menerima perintah tersebut. Hal itu dimungkinan merupakan salah satu pemicu kasus penembakan Briptu Hance terhadap Wakapolwiltabes Semarang AKBP Lilik Purwanto, beberapa waktu lalu.

''Di era sekarang kondisi polisi sudah seharusnya tidak demikian. Karena atasan dan bawahan pada polisi sekarang ini, merupakan partner kerja,'' kata Farouk, Rabu (21/3) siang. Dia mengatakan hal itu di sela-sela seminar dan workshop membangun komitmem dan kerjasama pemerintah, polisi, dan masyarakat di Yayasan Percik Salatiga.

Menurut jenderal bintang 2 itu, semakin militeristik sebuah lembaga maka profesionalitas dalam lembaga tersebut akan semakin jauh. Sehingga polisi sekarang ini sudah harus mulai menghilangkan konsep militeristik. Dia mencontohkan masih terjadi kehadiran seorang pimpinan dan bawahan dalam sebuah pertemuan menggunakan seragam. ''Bagaimana bisa bisa menjadi partner antara bawahan dan atasan, karena perbedaan kepangkatan. Ini hanya contoh saja,'' ujarnya.

Terkait soal mutasi, Farouk menjelaskan harus disampaikan secara transparan kepada bawahan dan harus mempertimbangkan aspek sosial anggota polisi, seperti keluarga, tempat tinggal, dan lainnya. Sedangkan soal peningkatan kesejahteraan berupa tambahan penghasilan hanya diberikan kepada anggota polisi yang bekerja lebih.

Sementara itu, pengamat sosial politik Prof Arief Budiman meminta agar di setiap satuan kepolisian dibentuk kelompok-kelompok sharing, yang terdiri dari beberapa orang personel. Diharapkan dalam kelompok tersebut, menjadi tempat untuk menumpahkan perasaan dan kejengkelan terhadap semua permasalahan yang dihadapi.

''Termasuk kejengkelan mereka terhadap pimpinan. Dan pimpinan itu tidak perlu tahu,'' jelas Arief.

Pengajar di Universitas Melbourne Australia itu menjelaskan pula, jika kasus penembakan yang dilakukan polisi merupakan dampak permasalahan psikologis dalam dirinya. Masalah psikologis tersebut yang kurang diperhatikan dalam organisasi kepolisian sekarang ini. Permasalahan lainnya soal kesejahteraan polisi sehingga harus ditingkatkan. (D12,H21,H37,H2-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA