logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Maret 2007 NASIONAL
Line

Ditemukan 16 Bom di Bunker

  • Tersangka Seorang Petani Sukoharjo

BAHAN PELEDAK: Anggota Gegana Polda Jateng memasukkan bahan peledak jenis TNT ke dalam karung di rumah Sikas, warga RT 1 RW 3 Dukuh Toriyo, Desa Banaran, Bendosari, Sukoharjo, Rabu (21/3). Sejumlah bahan peledak dan senjata ditemukan di rumah tersebut. (30)

SUKOHARJO - Pascapenyergapan jaringan teroris di Sleman Selasa (20/3) malam lalu, tim gabungan Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Polwil Surakarta kemarin mendatangi rumah Sikas di RT 1 RW 3, Dukuh Toriyo, Desa Banaran, Kecamatan Bendosari.

Sikas diduga menjadi salah satu tersangka yang ditangkap dalam penggerebekan jaringan teroris oleh Densus, yang berujung pada tertembaknya salah seorang anggota kelompok Abu Dujana. Orang ini dicurigai memberi akomodasi pada Noordin M Top.

Polisi menemukan sejumlah amunisi dan senjata di bunker yang terletak di ruang belakang dekat dapur. Bunker sedalam 50 cm itu dibongkar anggota Tim Gegana Polda Jateng yang tiba di lokasi kemarin sekitar pukul 16.30. Tak memerlukan waktu lama petugas menggali, sebab tempat penimbuhan bahan peledak itu masih berlantai tanah.

Belum Diplester

Lantai rumah Sikas, sebagian besar memang belum diplester semen. Hanya di kamar tidur serta kamar tamu yang sudah dipasangi batu bata sebagai lantainya.

Adapun jenis amunisi dan senjata yang ditemukan itu adalah 2.009 butir peluru untuk senapan serbu jenis AK, 20 kg Tri Nitro Toluena (TNT), dan potassium chlorate 30 karung dengan berat total seberat 625 kg. Kemudian detonator aktif 200 buah, 1 senjata laras panjang rakitan, 1 revolver rakitan, dan sebuah senjata api AR organik. Anggota tim juga menyita 16 buah bom lontar dan 1 golok sepanjang 30 cm.

Sebelum Tim Gegana yang beranggotakan 10 orang tiba, polisi sudah menemukan beberapa amunisi dan bahan peledak di salah satu ruangan rumah pria asli Desa Toriyo itu. Yaitu magazine untuk senjata M16 dan SS1, puluhan butir peluru, potassium chlorate yang dimasukkan dalam 2 jerigen, 2 detonator aktif dan TNT.

Puluhan personel Polri bersenjata menjaga rumah yang langsung dipasangi police line di sekelilingnya. Beberapa petinggi Polwil Surakarta dan Polres Sukoharjo terlihat hilir mudik di halaman rumah berukuran sekitar 7 x 20 meter itu.

Kata salah satu warga yang mengaku ikut masuk ke rumah saat Sikas diminta menunjukkan amunisi miliknya, dia melihat puluhan butir peluru dan dua detonator di dalam rumah tersebut. "Bentuk detonatornya, satu kotak dan satu lagi runcing seperti jari," kata warga tersebut.

Saat itu, peluru dan detonator itu masih ditempatkan di sebuah kotak kayu. "Lokasinya di dapur," imbuhnya.

Menurut salah satu anggota polisi, Sikas ditangkap Rabu (21/3) pukul 02.00 dinihari di Sleman. Setelah itu, dari pengembangan pemeriksaan, ia dibawa ke rumahnya di Sukoharjo untuk menunjukkan amunisi yang dimilikinya.

Sekitar pukul 08.30, Tim Densus dan personel kepolisian tiba di rumah lelaki dengan ciri-ciri badan gempal, pendek dan berkulit hitam itu. Di rumahnya, lelaki kelahiran 10 September 1970 itu diminta menunjukkan letak penyimpanan amunisi, yang diduga digunakan untuk aktivitas terorisme.

Sekitar pukul 10.00, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu dibawa polisi lagi. Tapi tidak jelas informasinya, ke mana Sikas dibawa. Istrinya, Surani, kata warga setempat juga ikut diamankan bersama suaminya.

Kejadian itu membuat heboh penduduk desa yang biasanya sepi. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah lelaki yang aktif mengikuti pengajian itu.

Beberapa penduduk mengaku tidak menyangka kalau tetangga mereka terlibat dalam jaringan teroris. Mereka selama ini tidak tahu menahu dengan aktivitas lelaki penduduk asli Desa Toriyo itu.

Bahkan para tetangga Sikas juga tidak tahu kalau dia sebenarnya sudah ditangkap petugas di Sleman, usai penggerebekan jaringan teroris pada Selasa malam lalu. Mereka tahunya lelaki yang istrinya sehari-hari memakai cadar itu ditangkap polisi di rumahnya, pukul 10.00 kemarin.

"Saya nggak nyangka, kok Pak Sikas bisa seperti ini. Wong sehari-harinya baik. Orangnya ya biasa, sering pergi ke sawah karena dia petani," kata mereka.

Hingga pukul 18.00, belum ada statement resmi dari pihak kepolisian terkait penangkapan Sikas. Kapolwil Surakarta Kombes Pol Yotje Mende hanya memberikan keterangan singkat kepada wartawan mengenai jenis amunisi dan senjata yang ditemukan di dalam bunker berukuran 3 x 4 meter, usai pembongkaran oleh Tim Gegana. ''Penanganan lebih lanjut, menjadi kewenangan Tim Densus,'' paparnya.

Hingga pukul 20.00, suasana di sekitar tempat kejadian juga masih ramai. Warga sekitar terus berdatangan untuk melihat proses pemeriksaan yang dilakukan polisi. Senjata dan amunisi itu selanjutnya dibawa petugas Densus untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Barang berbahaya itu diangkut menggunakan mobil Kijang warna biru. Adapun, petugas Polwil hanya mengamankan 625 kg potassium chlorate serta bom lontar ke Mapolwil Surakarta Jalan Slamet Riyadi, Solo. (fan,san-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA