| Kamis, 22 Maret 2007 | MURIA |
Perajin Pisau Hentikan Pengiriman ke Luar JawaKUDUS - Bencana alam di sejumlah daerah ternyata juga berdampak pada kerajinan pisau yang bersentra produksi di Desa Tenggeles, Mejobo, Kudus. Pasalnya, distribusi produk tersebut ke luar Jawa sempat tersendat. Ongkos pengirimannya pun menjadi meningkat. ''Sebagian besar pisau buatan kami, dijual ke luar Jawa,'' kata Ketua Kelompok Kerajinan Pisau Krida Taruna Waja, A Fanani, Rabu (21/3). Dijelaskan dia, banyak kiriman pisau ke luar Jawa yang dibatalkan. Kondisi tersebut berakibat terjadinya penumpukan stok di gudang perajin. Hal tersebut terjadi pada bulan Januari-Februari. Praktis selama satu bulan lalu tidak berproduksi, karena pesanan pembeli tidak bisa dikirim dalam jangka waktu yang tepat. Beruntung selama satu minggu ini kembali berproduksi. Ditambahkannya, setiap minggu sekali kelompok tersebut bisa mengirim pisau ke berbagai daerah di Kalimantan, Lombok, dan Bali sebanyak 1.000 kodi. Setiap perajin mampu menghasilkan 10 kodi pisau per harinya, dengan berbakai ukuran dari yang kecil hingga besar. Ukuran terkecil dijual per kodi Rp 8.000, sedangkan paling besar Rp 45 ribu per kodi. Soal keuntungan rata-rata yang didapat perajin per kodi antara Rp 1.000 dan Rp 1.500, dengan harga bahan baku pisau berupa baja tahan karat Rp 12.000 per kg mampu menghasilkan puluhan pisau ukuran kecil. Salah seorang perajin, Sunardi (40), menyatakan dirinya sempat mengurangi produksi, karena pemasaran ke luar Jawa terganggu. Namun, pengurangan tersebut memang hanya sedikit, mengingat dirinya juga menyetor ke Jakarta dan Bogor. ''Kami memang menderita kerugian karena soal kesulitan pengiriman tersebut,'' katanya tanpa menyebut nominalnya. (H8-54) |