logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Maret 2007 INTERNASIONAL
Line

analisis

Warga Israel Terbelah

JERUSALEM - Warga Israel terbelah atas pemerintahan baru Palestina. Mereka menolak berdamai dengan Hamas, namun juga belum sependapat tentang apakah akan terus memboikot pemerintahan baru itu meski faksi Islam yang berkuasa tersebut kini telah menggabungkan kekuatan dengan kubu moderat.

Meski ada tanda-tanda bahwa Barat bersedia berhubungan paling tidak dengan anggota non-Hamas dalam koalisi baru Palestina, beberapa pakar melihat PM Isreal Ehud Olmert ditekan agar mengikuti langkah itu.

''Sebagian besar warga Israel bosan dengan retorika dan ideologi, sehingga saya kira kita tidak akan mampu mempertahankan sikap absolut,'' kata seorang pejabat pemerintah Israel, yang tidak bersedia disebut namanya.

Jajak pendapat di koran terlaris Israel, Yedioth Ahronoth, Senin lalu menunjukkan 40 persen publik setuju dengan penolakan Olmert untuk mengadakan perundingan damai dengan Palestina sampai mereka mengakui Israel dan meninggalkan kerusuhan.

Sebanyak 39 persen dari mereka menyatakan Israel sebaiknya melakukan negosiasi, meski hanya separo dari responden menginginkan kontak diplomatik terbatas kepada menteri dari Fatah, faksi pimpinan Presiden Palestina Mahmud Abbas yang moderat.

Opini terbagi ini mungkin tak terpikirkan beberapa tahun lalu, ketika Hamas memelopori perlawanan Palestina dengan gelombang bom bunuh diri dan seruan bagi penghancuran negara Yahudi itu.

Namun sejak mengalahkan Fatah dalam pemilihan tahun lalu, Hamas memperlunak sikapnya dan mengisyaratkan bersedia melakukan gencatan jangka panjang dengan Israel sebagai imbalan bagi satu negara Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Publik Bingung

Matti Steinberg, mantan analis intelijen Israel, mengatakan seruan agar tenang, meski tidak sampai ke perjanjian damai, memberi beban berat pada Israel.

''Kelompok radikal Palestina dipercaya dalam mengelola konflik, bukan mengatasinya, sehingga banyak warga Israel menyadari bahwa cara terbaik menyingkirkan kubu radikal adalah menekankan solusi, bukan penahanan,'' kata Steinberg.

Menurutnya, upaya-upaya Olmert - yang didukung Barat - untuk mengisolasi Hamas membingungkan publik Israel.

Mereka memandang perbedaan diplomatik semacam itu kurang berarti.

Sejak Pemerintah Palestina dilantik Sabtu lalu, Amerika Serikat mengisyaratkan keterbukaan bagi perundingan tidak resmi dengan menteri-menteri non-Hamas, begitu juga dengan Prancis dan Inggris. Norwegia mengakui penuh pemerinthaan ''persatuan'' baru itu.

Uzi Arad, mantan penasihat pemimpin oposisi sayap kanan Benjamin Netanyahu, juga mengecam Olmert.

Namun dia juga menggambarkan sebagian warga Israel ''letih, apatis, tidak tahu, dan berkhayal'' saat berhadapan dengan Palestina.

Hidup Berdampingan

''Israel telah lama menerapkan indoktrinasi yang menelorkan slogan 'Anda berdamai dengan musuh','' kata Arad.

''Ini konyol. Anda memerangi musuh, dan ketika mereka tidak lagi menjadi musuh dan menunjukkan keinginan untuk berdamai, Anda berdamai. Namun di sini kita memiliki satu kelompok, Hamas, yang terang-terangan mengatakan akan tetap berperang, dan banyak warga Israel ingin membantunya.''

Steinberg menyatakan jajak pendapat beberapa tahun terakhir menunjukkan sebagian besar warga Palestina menginginkan hidup berdampingan dengan Israel, meski mayoritas dari mereka juga mendukung doktrin jihad Hamas. (rtr-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA