logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Maret 2007 BANYUMAS
Line

Minyak Tanah Melimpah, Pembeli Menurun

  • Omzet Pengecer Turun 50%

PURWOKERTO - Pasokan minyak tanah ke agen dan panggalan di wilayah Banyumas kini melimpah. Itu terjadi karena terjadi penurunan daya beli masyarakat. Kondisi ini sudah berlangsung hampir dua bulan terakhir ini.

Karena stok melimpah sehingga penjualannya di tingkat pangkalan dan pengecer turun drastis. Sementara pasokan minyak tanah dari Pertamina UP IV Cilacap te-tap berjalan terus, sehingga mau tidak mau agen, pangkalan dan pengecer tetap harus membeli. Saat ini harga mi-nyak tanah juga tidak mengalami kenaikan, tetap berkisar di harga Rp 2.300/kg di tingkat eceran.

Nurul, pemilik agen di Sa-wangan Purwokerto menuturkan, dalam kondisi normal biasanya dia bisa menyalurkan sekitar lima tangki (5.000 liter/tangki). Namun sekarang tinggal 4 tangki. Dia menerima pengiriman minyak tiap minggu dari Depot Pertamina Maos Cilacap.

''Ini sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir ini. Penurunan permintaan dari pengecer atau pedagang antara 12-20 persen. Pembelinya sekarang menurun,'' katanya kemarin.

Kondisi sebaliknya, kata dia, untuk pasokan ke pengecer masih tetap. Cuma dari pengecer ke pembeli yang menurun karena pembelinya mulai berkurang. Apalagi, stok di agennya masih banyak. Dia memperkirakan itu terjadi karena masyarakat memilih membelanjakan membeli beras dan beralih menggunakan kayu bakar. ''Stoknya dari minggu-minggu sebelumnya masih banyak, padahal setiap pengiriman tetap harus kami terima,'' katanya.

Turun Drastis

Sunarko, pengecer minyak tanah di Karanglewas, akibat daya beli masyarakat menurun, dia mengaku omzet penjualannya menurun mencapai 50 persen. Biasanya setiap hari dia bisa menjual satu drum atau isi 217 liter. ''Namun, sekarang satu drum terjualnya sampai dua hari,'' akunya.

Pengecer lain, Wasitah, di pasar Karanglewas dan Herman di Pasar Cermai Purwosari Baturraden juga mengakui hal itu. Kata Wasitah, sejak awal Februari kemarin, omzet penjualannya menurun tajam. Biasanya 1 drum mampu dijual habis dalam sehari. ''Tapi sekarang habisnya empat hari,'' tutur mantan anggota DPRD ini.

Hal yang membuatnya berat, setiap kiriman minyak yang datang tetap harus dibayar lunas. Padahal, stok sebelumnya masih ada. Untuk satu drumnya seharga Rp 475 ribu. ''Ini kemungkinan karena faktor tingginya harga beras, sehingga masyarakat lebih memilih membelanjakan dulu membeli beras,'' ujarnya.

Herman mengatakan, permintaan pengecer yang berkurang, sehingga dia harus menanggung sisa permintaan yang sudah terlanjur dikirimkan oleh agennya. ''Biasanya saya menerima jatah lima drum seminggu, karena jatah untuk pengecer saya ada yang tidak diambil, ya terpaksa saya ikut me-nanggung pengiriman dari agen. Seminggu ini ada 10 drum dan sebagian belum laku,'' akunya.

Pihak Hiswana Migas wilayah Banyumas juga mengakui hal itu. Keterangan dari staf di bagian kesekretariatan yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, itu terjadi karena situasi ekonomi rakyat sekarang memang sedang sulit. Sedangkan pasokan minyak ke Banyumas mencapai 187,5 kilo liter. ''Kalau ada pangkalan yang mengajukan keberatan bisa menolak pengiriman,'' kata staf itu. (G22-36)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA