| Selasa, 20 Maret 2007 | WACANA |
Perbaiki Mutu Durian Banjarnegara
SAAT ini di Banjarnegara sedang musim durian. Setiap hari ribuan buah yang bernama latin Durio Zibethinl TS turun dari pohon untuk dijual kepada para penggemar si raja buah ini. Maklum sejak zaman dahulu ia telah menjadi buah yang paling populer dan digemari masyarakat karena rasanya yang enak. Tak heran bila musim durian tiba, di sepanjang jalan raya antara Klampok - Wonosobo banyak berdiri lapak-lapak darurat untuk menjualnya. Juga hampir disetiap tempat di dalam kota Banjarnegara ada penjual buah yang berduri ini,yang di jual dari pintu ke pintu juga ada. Bahkan sampai merambah pasar luar daerah.Namun demikian durian Banjarnegara belum bisa masuk Supermarket apa lagi merambah luar negeri, seperti durian Bangkok. Apa sebab? Sebab dari ribuan klon durian Banjarnegara banyak di antara klon-klon itu berkualitas di bawah standar keinginan konsumen. Ditambah petaninya dalam berkebun durian masih secara tradisional, menanam bibit dari biji, dicampur dengan tanaman lain. Banyak pohon durian yang tumbuh secara liar di kebun-kebun petani yang tidak jelas asal usul varitasnya, sehingga menghasilkan buah yang berkualitas asalan, buah tidak seragam, daging buah tipis warnanya tidak menarik. Hal ini tentu sangat mempengaruhi harga jualnya. Di saat panen raya seperti sekarang, harga durian grade asalan di tingkat petani antara Rp 3.500 - Rp 6.000 / buah dengan berat 1,5 kg - 3 kg / buah. Bandingkan dengan durian impor (Bangkok) yang harga perkilonya Rp 20.000 - Rp 25.000/kg. Dengan berat 3 kg durian Bangkok sudah berharga Rp 60.000 - Rp 75.000 / buah. Durian varitas Monthong dari Alasmalang Banyumas harganya sudah menyentuh Rp 15.000,00/kg. Kalau beratnya 3 kg sudah berharga Rp 45.000 / buah, dengan berat yang sama durian Banjarnegara baru berharga Rp 6.000/buah. Perbaikan Mutu Walaupun di Banjarnegara pohon durian masih tumbuh secara liar namun sebenarnya ada varitas yang sudah baik dan bisa diandalkan, antara lain durian Si Kirik dan durian Darwis dari Kecamatan Sigaluh, durian Si Mimang dai Kecamatan Madukara, Durian Kamun dari Kecamatan Punggelan. Sebetulnya masih banyak varitas durian yang baik di desa-desa penghasil durian. Untuk mengetahuinya sekaligus menyeleksi, setiap tahun perlu di adakan lomba durian di berbagai tingkatan, ini bisa sebagai ajang promosi. Dengan demikian muncullah durian-durian baru sebagai juara, sehingga mendorong petani untuk mengadopsi bibit yang sudah jelas kualitasnya. Dalam hal ini peran pemerintah daerah Banjarnegara dan dinas terkait sangat diharapkan kiprahnya. Dinas pertanian Kabupaten perlu membuat program khusus perbaikan mutu durian Banjarnegara, bukan sekadar memberikan bantuan bibit durian kepada para petani, tetapi juga pendampingan yang terus - menerus. Petani diberi motivasi, penyuluhan perlunya memperbaiki mutu salah satu komoditas Banjarnegara yaitu durian. Disarankan berkebun secara monokultur, menanam bibit varitas unggul asal okulasi, sambung pucuk atau bibit susuan. Yang berasal dari durian klas prima, misalnya asal Bangkok. Monthong, Chame, Kadrum asal Malaysia. Musaking, Udang Merah, D24, MDur 88, asal unggul lokal Sikirik, Darwis, Si Mimang, dan Kamun. Bila dinas terkait dan para petani durian di Banjarnegara bisa bekerja sama yang baik dan hubungan yang akrab dalam tempo 5-7 tahun durian Banjarnegara bisa meningkat derajatnya dari kelas trotoar menjadi kelas swalayan, menjadi konsumsi petinggi negeri. Amin. Tapi sebaliknya bila inovasi tidak segera dilakukan dalam tempo 5-7 tahun ke depan durian Banjarnegara akan tetap menjadi durian kelas rendahan bahkan mungkin ditinggalkan oleh para pelanggannya. Mereka akan beralih mengonsumsi durian impor atau durian kabupaten tetangga. Kabupaten Banyumas di Kecamatan Kemranjen desanya Alasmalang dan Karangsalam sejak beberapa tahun yang lalu sudah melakukan inovasi perbaikan mutu duriannya, sekarang sudah nampak hasilnya. (11) --- Suprapto, mantan Kepala Desa Singamerta
|