logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Maret 2007 WACANA
Line

Melestarikan Bahasa dan Budaya Jawa

  • Oleh Samadi SP

SALAH satu kemuliaan suatu bangsa adalah karena budaya dan bahasa. Maka tidak ada salahnya bila tiap hari Kamis, para pegawai dan karyawan di instansi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah harus menggunakan bahasa Jawa.

Program itu ternyata tidak seluruhnya berjalan dengan mulus, sebab tidak semua pegawai bisa berbahasa Jawa. Hal ini mungkin karena bukan orang Jawa dan bahasa sehari-harinya memakai bahasa Indonesia atau bahasa lain.

Namun upaya untuk melestarikan budaya dan bahasa Jawa perlu didukung oleh semua pihak, agar kebudayaan, adat istiadat dan bahasa Jawa yang kita miliki tidak punah atau hilang.

Berbeda dengan orang-orang desa yang hidup di Jawa Tengah kebanyakan dialek mereka dengan bahasa Jawa fasih sekali dan belum luntur. Sedangkan orang-orang yang hidup di kota - dalam menggunakan bahasa sehari-hari sudah bercampur. Kadang pakai bahasa Jawa kadang bahasa Indonesia.

Penanaman nilai-nilai budaya dan bahasa Jawa sejak dini kepada anak sangat penting dan akan lebih berhasil, sehingga tepat sekali kalau pelajaran bahasa Jawa dimasukkan dalam kurikulum di satuan pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA.

Peran Guru

Di sini peran guru sangat penting dalam mengajarkan budaya dan bahasa Jawa. Kemampuan guru dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan bahasa Jawa dapat berhasil dengan baik jika guru memiliki kompetensi dan profesional di bidang ini.

Sebab kondisi riil di lapangan ternyata banyak guru yang tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik, apalagi dalam hal tulis-menulis aksara Jawa. Kebanyakan mereka tidak tahu dan kurang menguasai.

Dari hasil survei dan pengamatan di beberapa sekolah terhadap anak didik, sebagian mereka mengatakan pelajaran bahasa Jawa termasuk pelajaran yang sulit setelah matematika.

Pertanyaannya adalah mengapa bahasa Jawa dianggap sulit, bukankah anak-anak (murid) kebanyakan keturunan orang Jawa? Jawabnya mungkin, karena penanaman nilai-nilai budaya dan bahasa Jawa masih setengah hati.

Kadang bagi orang tua lebih mementingkan kepandaian anak dalam bahasa Inggris, Jepang atau Mandarin, sehingga mereka rela membayar mahal untuk kursus/privat bahasa anak-anaknya.

Dalam hal ini, bahasa Jawa seolah-olah hanya pelengkap saja kalau dibutuhkan dan tidak tertanam dalam diri setiap anak yang hidup di Jawa Tengah. Di tengah-tengah masyarakat akan kita jumpai, bahwa dalam penggunaan bahasa Jawa banyak yang ngoko terhadap orang tua atau yang lebih tua.

Anak dalam berbicara tidak memakai bahasa Jawa halus (krama alus). Hal ini terjadi karena anak tidak dibiasakan untuk berbicara menggunakan krama alus.

Pemakaian bahasa Jawa krama alus (inggil) memang tergolong sulit, sehingga kalau salah dalam kata atau susunan kata yang diucapkan akan lucu sebab tidak sesuai dengan struktur bahasa yang benar.

Bahasa Jawa mengenal tingkatan-tingkatan kata yang harus digunakan. Misal, turu - tilem - sare. Tiap kata tidak boleh digunakan asal-asalan karena kalau tidak tepat digunakan akan kelihatan lucu dan wagu.

Belum Terlambat

Penggunaan bahasa Jawa khusus pada hari Kamis, untuk seluruh pegawai dan karyawan di instansi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah belum terlambat. Sebab keberadaan budaya dan bahasa Jawa belum memasuki kondisi kritis (punah).

Program ini marilah kita dukung dan dilaksanakan dengan senang hati.

Optimisme masyarakat untuk melestarikan budaya dan bahasa Jawa adalah suatu keharusan mutlak, bila tidak ingin bahasa Jawa hilang dalam peradaban dunia.Bahasa Jawa termasuk salah satu bahasa ibu yang ada di dunia, sehingga perlu dilestarikan.

Usaha untuk melestarikannya dapat dilakukan dengan beberapa hal antara lain: pertama mengajarkan pada anak-anak/peserta didik. Kedua, menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari.

Ketiga, mengadakan seminar, konggres, diskusi dan kajian-kajian dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa.

Di tangan masyarakat Jawa Tengah sendiri, keberadaan budaya dan bahasa Jawa itu tetap lestari. Harapan kita, kiranya perkembangan bahasa Jawa dapat ngrembaka (berkembang subur) tidak sampai hilang. (11)

--- Samadi SP, pemerhati sosial budaya, Ketua Kelompok Studi Pemuda (KSP)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA