logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Maret 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Kerunyaman Empat Tahun Invasi ke Irak

Hanya kerunyaman Irak dan bertambahnya beban persoalan bangsa Arab di Timur Tengah. Kesimpulan tersebut tidaklah berlebihan sebagai catatan empat tahun invasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Negeri 1001 Malam itu. Tidak ada hasil nyata yang mencerahkan kecuali tumbangnya Saddam Hussein yang diikuti peradilan dan hukuman gantung bagi mantan penguasa Irak tersebut. Selebihnya adalah kekacauan demi kekacauan dalam aroma perang saudara yang nyaris tak berujung. Pertikaian para pengikut kelompok Suni dan Syiah terus berlangsung. Pemerintahan bentukan AS tak mampu meredakan ketegangan.

Jangan bayangkan kerusakan infrastruktur yang belum pernah pulih pascainvasi 2003. Ledakan bom di mana-mana menggambarkan kerusakan fisik dan keterancaman jiwa yang dapat terjadi setiap saat. Situs sejarah warisan zaman keemasan Islam banyak yang tinggal puing-puing. Dan, di atas harga kehancuran fisik adalah nyala perang saudara yang membakar seluruh Irak. Bahkan kini aroma perebutan pengaruh antara Suni dan Syiah dikhawatirkan meluas ke negara-negara lain di kawasan Teluk. Kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke Arab Saudi belum lama ini tak lepas dari konstelasi kecemasan itu.

Di balik api yang membara, kerugian yang diderita umat Islam di kawasan tersebut adalah keterceburan makin dalam ke lembah konflik. Sejumlah dokumen dan pernyataan dari Amerika menyebut keterlibatan para tokoh Syiah Iran yang memberi dukungan kepada kelompok militan Syiah di Irak dan Lebanon. Terdapat persoalan lebih strategis terkait dengan perebutan pengaruh untuk menjadi "panglima" di kawasan Arab. Apalagi kemudian dikaitkan dengan agenda perlombaan senjata, khususnya isu nuklir Iran. Pernyataan-pernyataan semacam itu jelas menyulut kecemasan negara-negara dengan mayoritas Suni.

Konferensi Internasional tentang Irak yang awal bulan ini digelar di Bagdad menumbuhkan optimisme sekaligus pesimisme. Mengapungkan optimisme, sepanjang itu menyangkut kemauan untuk berunding dengan melibatkan AS, Iran, dan Suriah di tengah delegasi 16 negara termasuk lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Tetapi tetap memaparkan pesimisme ketika terkait dengan salah satu kunci penyelesaian Irak, yakni penarikan mundur pasukan pendudukan. Apalagi tampaknya isu Irak kini meluas ke konstelasi kebijakan strategik Amerika di Timur Tengah menyangkut hubungan dengan Iran.

Sikap Amerika memang terlihat dilematis. Hanya, kita belum melihat ada iktikad untuk menyelesaikan persoalannya di Irak. Di dalam negeri pemerintahan George W Bush terus mendapat tekanan terkait dengan keputusannya menambah jumlah pasukan ke Bagdad, dan di balik itu banyak pihak mencium visi lebih berbahaya yang sedang dimainkan Washington di Timur Tengah. Memperkuat pasukan merupakan bagian dari persiapan menuju Iran, dan semua itu terkait dengan politik komprehensif, yaitu "memelihara atmosfer konflik" di Irak, menekan Iran, sekaligus mengimplementasikan orientasi politik minyaknya.

Washington tentu tak akan membiarkan Irak berdaulat, karena hal itu berarti memperkuat posisi Syiah, yang dikalkulasi sama dengan memberi angin bagi peran Teheran di kawasan. Lebih jauh lagi bisa menginspirasi kebangkitan Syiah yang bukan mayoritas di Arab Saudi, padahal kerajaan tersebut merupakan salah satu mitra minyak terbesar Amerika. Belum lagi mereka masih harus "bermain" di antara konflik Palestina - Israel. Maka empat tahun invasi ke Irak mestinya memberi refleksi pencerahan kepada negara-negara Arab dan komunitas muslim, betapa disintegrasi adalah produk politik Amerika yang harus dilawan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA