logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Maret 2007 BUDAYA
Line

Cantik, Mematikan

ENAM tahun lalu, album My Life memantapkan langkah Sherina Munaf di industri musik Indonesia. Triawan Munaf, motor Giant Step, grup musik rock era 1970-an hingga paro kedua 1980 dengan vokalis Benny Soebardja, bungah atas pencapaian sang putri di dunia musik.

Pemain kibor Giant Step itu memperbolehkan sang anak, yang melejit lewat film Petualangan Sherina, mengikuti semua kegiatan. Sherina pun ikut latihan balet dan wushu serta les piano, menggambar, dan bahasa.

Apa kata siswa tingkat XII atau setara kelas II SMU di British International School, Jakarta, itu soal wushu? ''Wushu adalah bela diri China paling saya gandrungi. Sudah tiga tahun saya berlatih pedang. Itu membuat saya kuat, lebih pede. Saya merasa jati diri saya terwakili lewat wushu,'' katanya.

Yang terpenting, kata dia, lewat wushu perempuan tercitrakan seperti pedang: cantik, tetapi kuat dan mematikan. Dia pun menghasilkan 10 tembang berdasar kegemaran pada olahraga itu.

Tak main-main. Berbekal Clavinova dan program komputer Cubase, dia mengaransemen semua lagu itu. ''Saya menjadi music director dan terlibat produksi. Cuma dua lagu karya pacar kakak saya,'' katanya. Itulah dua puisi karya Madhatter Z, "Bettern than Love" dan "Here to Stay".

Dan, kini, dara kelahiran Bandung, 11 Juni 1990, itu merilis album baru, Primadona. Sherina menuturkan Primadona album penuh kemarahan sekaligus pemberontakan. Kenapa?

''Karena, saya bukan orang yang romantis. Saya cenderung lebih mudah menghasilkan lagu dalam kondisi marah.''

Marah

Atas nama kemarahan pula, saat merilis album itu dia mengenakan pakaian paduan kefemininan dan kemaskulinan. Dia mengakui terpengaruh gaya busana panggung Evanescence, selain warna musik ''marah-marah'' Linkin Park, The Axest, Limp Bizkit, dan Asian Kungfu Generation. ''Saya tak cuma ingin kelihatan cantik, tetapi juga pintar sekaligus kuat lewat musik saya.''

Dia menawarkan corak rock modern, R&B, hip-hop, jazz, hingga pop. Disertai penguasaan musik yang makin matang, tak mengherankan bila kehadiran karya dara ayu itu ditunggu-tunggu. Tak berlebihan pula bila banyak orang berharap Sherina bakal memperkaya sejarah musik Indonesia.

Dia mengandalkan singgel "Primadona", "Sendiri", dan "Ku di Sini". Dia yakin album aneka warna itu bakal diterima pasar.

Memang, kata pengamat musik Remy Soetansyah, tak ada benang merah antara popularitas dan kelarisan album. Album Big Bang Rolling Stones pun disambut biasa-biasa saja. ''Namun kemungkinan pasar menyambut Primadona terbuka lebar. Bagaimanapun pasar cenderung mengenal dengan baik popularitas Sherina,'' tuturnya.

Triawan telah merumuskan strategi untuk mengangkat kembali popularitas putri tersayang. ''Jurus itu ada pada manajemen kami,'' katanya. (Benny Benke-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA