| Selasa, 20 Maret 2007 | BANYUMAS |
Perajin Tas KarangsariFokuskan Pemasaran ke Luar JawaBANYUMAS - Kerajinan tas di Desa Karangsari, Kecamatan Kembaran, Banyumas belum diketahui banyak orang. Sebab, selama ini pemasarannya lebih difokuskan ke luar Jawa. Mahrur (45), perajin tas desa itu mengatakan, daerah yang menjadi sasaran pemasaran produknya adalah Pulau Sumatra dan Kalimantan, khususnya Pontianak. Alasannya, dua daerah tersebut lebih prospektif jika dibandingkan dengan daerah lain, terutama kota-kota di Pulau Jawa. ''Di Jawa kan sudah banyak perajin tas sehingga kebutuhannya telah terpenuhi. Sementara itu di luar Jawa, kebutuhan akan tas masih sangat kurang,'' ujar dia, kemarin. Dia mengakui, untuk memasarkan produknya membutuhkan biaya pengeluaran yang tidak sedikit. Namun kondisi tersebut teratasi karena jumlah permintaan jauh lebih besar. ''Bahkan kami kewalahan memenuhi permintaan,'' tandas pemilik UD Real itu. Selain membuka usaha di Kecamatan Kembaran Banyumas, bersama kakaknya, dia juga membuka usaha di Desa Tanahsari, Kebumen. Dua bulan sekali, dia mengirim produknya ke Sumatra dan Pontianak. Sekali kirim, jumlahnya mencapai 400 dosin. Sebenarnya permintaan pasar dua daerah itu cukup besar. Terbukti, jumlah yang ia kirim itu saja belum mencukupi karena permintaannya bisa mencapai 800 dosin sebulan. Mesin Pendukung Sebulan ia mengaku mampu memproduksi sekitar 2.000 tas dengan harga satuan Rp 7.000 - Rp 22.500. Usaha kerajinan tas itu dia rintis pada 2002, sekarang telah mempekerjakan delapan karyawan yang berpengalaman dalam pembuatan tas. Awalnya, dia tertarik dengan prospek penjualan sepatu ke luar Jawa karena sebelumnya pernah bekerja di bagian pemasaran di salah satu perusahaan sepatu di Bandung. Berdasarkan pengalaman dan pengamatannya selama menjadi staf pemasaran di perusahaan itu, dia pun memberanikan diri membuka usaha pembuatan tas sendiri. Jenis tas yang diproduksi antara lain tas sekolah dan tas kantor. Kini, dia akan merambah pada pembuatan dompet. Zaenal (20), salah satu karyawannya mengatakan, saat ini yang menjadi permasalahan adalah kekurangan mesin produksi pendukung sehingga proses produksinya agak terganggu. ''Untuk membuat sebuah tas hingga siap dipasarkan, kami butuh waktu kurang lebih tiga jam,'' kata karyawan yang telah bekerja sekitar lima tahun itu. (wan-71) |