| Rabu, 14 Maret 2007 | SEMARANG |
33 Tahun Menyatukan ''Balung Remuk''SUARA tangis, suara rintihan kesakitan, acapkali terdengar bila melewati rumah bercat kuning gading Desa Kelero, Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Rumah yang mirip asrama itu, bukan tempat penyiksaan tahanan, namum milik Santoso (50) yang sedang menyatukan balung remuk (tulang remuk) akibat kecelakaan. Kalau menyambung atau menyatukan tulang yang patah hal yang biasa. Namun merupakan tantangan bagi pria bertubuh gempal ini bila menyatukan, membangun kembali tulang yang sudah remuk atau patah menjadi beberapa potong. Sudah 33 tahun dia menekuni pengabdian ini. Pengobatan ini menurutnya merupakan pengabdian, bukan usahanya, karena usaha untuk menghidupi keluarganya adalah sebagai petani dan peternak kuda pacuan. Nama Santoso sesungguhnya di kalangan pejabat dan pengusaha lebih dikenal sebagai peternak, penghasil kuda unggulan. Harga anak kuda yang biasa dibeli pehobi kuda berkisar Rp 60 juta hingga ratusan juta. Mengenai, ''pengabdiannya'' menurut ceritanya, bukan diperoleh dari keturunan, namun didapat setelah banyak merenung dan mendekatkan pada Allah SWT, sehingga muncul niat untuk melakukan pengobatan. Santoso bukan tipe yang suka ''beriklan'' dengan menyebutkan keberhasilannya menyembuhkan pasiennya. Kalau ditanya soal itu? Dia pasti akan lebih banyak diam. Kalau pun terpaksa, dia akan menjawab, ''sudah lupa''. Namun dari beberapa pasien menyebutkan sejumlah nama perwira polisi dan TNI yang kecelakaan akibat tugas di Timtim, Aceh dan Ambon, banyak yang mendapatkan pertolongannya. Bahkan ada juga yang menyebut nama pembalap ternama pernah datang ke tempatnya. ''Saya tidak ingat namanya, namun orangnya agak botak,'' kata pembantu Santoso. Di sela-sela wawancara dengannya, dia ''membantu'' dua orang yang belum selesai mendapat pengobatan dari rumah sakit. Pasien pertama, tulang rusuknya patah lima. Dua tulang, patah menjadi beberapa bagian. Sebabnya?, saat menguras sumur pasien tertimpa mesin pompa air yang beratnya lebih 100 Kg. Pasien yang lain, datang dari rumah sakit di Yogyakarta. Pasien ini korban kecelakaan, tulang punggung dan tulang pinggulnya patah menjadi beberapa bagian. Dalam waktu kurang dari dua jam, dua pasien tersebut dapat terselamatkan. Bagian yang patah juga remuk, dibuatkan patren (tulangan) dari luar dengan bahan bambu yang sangat tipis. Kemudian dibalut dengan perban dan diberi pembungkus pengeras. Tidak langsung digips ? Ini yang keliru kalau langsung digips. Akibat patah pasti akan terjadi pembengkakan jaringan tubuh. ''Kalau langsung digips, saat bengkak, memar mengempis, gips akan menjadi longgar. Proses penyatuan tulang tak akan sempurna,'' jelasnya memberikan alasan. Banyak dokter, ahli tulang bila patah tulang langsung digips.''Namun saya tidak melakukan hal itu,'' tambahnya. Perpaduan Cara memberikan pertolongan Santoso, sekilas merupakan perpaduan antara tradisional (sangkalputung) dengan pengobatan modern. Untuk mencegah infeksi, dia menggunakan antibiotik yang biasa digunakan di rumah sakit. Dia juga melengkapi dengan perlengkapan pembiusan lokal bila diperlukan. Tekanan darah, pasiennya juga selalu dicek dengan alat kedokteran. Untuk menghindari terjadi peradangan atau infeksi akibat luka, di tempat ini, tidak menggunakan batang pisang yang dikeringkan untuk pembungkus luka. ''Batang pisang itu tidak seteril, nanti kalau ada ulat atau kutu tanaman masuk ke dalam luka bagaimana ?''. Untuk menjaga kebersihan dia tetap menggunakan perban dan kain steril. Untuk mempercepat pertumbuhan tulang, selain memberikan ramuan khusus, dia juga memberikan sejumlah vitamin untuk tulang. Selain itu, di tempatnya juga disediakan pemondokan untuk pasien yang berasal dari luar kota. Diakhir percakapannya, Santoso memberikan tips, hindari bepergian bila hati tidak mantap, atau ragu-ragu. Awali dengan doa setiap kegiatan. Bila itu sudah dilakukan, kita serahkan semuanya pada Allah SWT. Agar tulang tidak rapuh, selain, sering berjalan kaki, juga makan yang tidak ada pengawet, lebih baik makan alami, termasuk memakan katul (dedak) juga baik. Caranya, katul dimasak dicampur dengan gula aren atau gula jawa.(Zainal Abidin-16) |