| Rabu, 14 Maret 2007 | SEMARANG |
Ir H Heri SugiartonoBudidayakan Kelengkeng Pingpong dari ThailandBuah belimbing yang pernah menjadi trademark Demak, kini nyaris tinggal kenangan. Kalau pun ada jumlahnya sangat terbatas, apalagi tak banyak warga yang tertarik mengembangkan buah tersebut. Pasar belimbing pun telah tergeser jambu merah delima dan citra. Sekarang muncul satu lagi pesaing produk buah lokal Demak yang mulai dikembangkan petani, yakni kelengkeng pingpong. Bagaimana perkembangan buah klengkeng tersebut? Berikut laporannya. SEBAGAI penduduk asli Demak, Ir H Heri Sugiartono (41), Kepala Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah menyadari betul, jika tanah lempung seperti di daerahnya cocok untuk tanaman sawah dan berbagai jenis tanaman pangan. Ia merasakan buah yang ditanam di kebunnya lebih manis dari buah dari daerah lain. Karena itu seusai lulus dari Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto, dia melakukan berbagai riset terhadap bermacam jenis tanaman, dari padi, palawija dan lainnya. Salah satu hasilnya adalah padi jenis melati. Beras yang dihasilkan berbau wangi pandan alami dan rasanya manis. Beras tersebut merupakan hasil kawin silang padi yang didapat dari berbagai negara dengan padi lokal. Untuk mendapatkan hasil padi yang tahan hama tersebut menguras waktu selama empat tahun. Rasa ingin tahunya seakan tidak pernah berhenti. Sejak dua tahun lalu, bersama rekannya, Prakoso Heryono (48) warga Jalan Bhayangkara Nomor 11 Demak, ia mulai mengembangkan pohon kelengkeng pinpong. Kelengkeng varietas baru tersebut merupakan hasil tempel pucuk dari kelengkeng lokal dengan kelengkeng pingpong Thailand yang kali pertama dikembangkan Prakoso Heryono. Tumpang Sari Pohon tersebut di tanam di atas lahan seluas dua hektare, dengan cara tumpang sari bersama padi. Kini di usia dua tahun, pohon-pohon itu mulai berbunga dan jumlahnya cukup banyak. Ketika usia satu setengah tahun, sudah berbuah, hanya saja belum begitu banyak. ''Ini hampir merata, di setiap ujung batang ranting tumbuh buah,'' ujarnya sambil memegang batang pohonnya. Heri menuturkan, ada keinginan untuk menjadikan desanya sebagai desa agrowisata khusus kelengkeng dan jambu. Saat ini, ia telah menyebar sebanyak 400 pohon tersebut ke para petani lain. Untuk pohon jambu, sudah banyak warga yang menanam, meski hanya di depan rumah atau pekarangan. Akan tetapi untuk kelengkeng, ia berencana membuat areal tersendiri. Perkebunan kelengkeng nantinya bisa dijadikan tempat agrowisata. ''Harapan kami dari Dinas terkait ikut mendorong termasuk dalam hal pengadaan bibit dan lainnya,'' kata Heri yang didampingi Kasubdin Pertanian dan Ketahanan Pangan, Ir Heru Budiyono MP. Biasanya, katanya, warga daerahnya baru mau mengembangkan pohon kelengkeng jika telah melihat hasilnya. Mereka tidak mau melakukan kalau belum melihat langsung percontohannya. Setelah melihat pohonnya berbuah, banyak warga yang meminta dicarikan bibit. Apalagi, mereka juga merasakan buahnya yang langsung dipetik dari pohon. ''Rasanya memang manis, buahnya tidak berair dan yang pasti harum,'' terangnya sembari mengatakan selain kelengkeng pingpong, ia juga akan membudidayakan jenis diamond river dan itoh. (Hasan Hamid-16) |