logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Maret 2007 SEMARANG
Line

Menyemai Cinta Batik pada Generasi Muda

  • Oleh : Moh Anhar

SIAPA bilang mengenakan baju batik akan kampungan dan kelihatan tua? Buktinya, remaja bisa tetap modis dan dan terlihat santai dengan balutan busana kasual bermotif batik. Hal itu bisa dilihat di fashion show Bazar Batik Jateng 2007 di Atrium Plasa Simpanglima yang digelar hingga hari ini (14/3).

Perajin Batik Semarang 16, misalnya, menampilkan empat model kasual draperi dipadu dengan celana jins pipa ketat. Motif batik tulis dimodifikasi sesuai gaya kontemporer, sehingga tidak terlihat ketinggalan zaman. Tak cuma itu, puluhan model juga dibawakan para penampil dari Kenang dan Denok Jateng. Mereka mengenakan motif-motif batik dari berbagai kota di Jateng yang kaya ragamnya.

Motif batik Pekalongan pantas menjadi variasi model busana muslim. Paduan itu menawarkan keserasian yang hangat. Tentu saja, fashion show itu mendapatkan sambutan tinggi peminat batik.

Ya, bazar itu digelar untuk menarik minat generasi muda terhadap seni batik. Pusat perbelanjaan di tengah kota sebagai lokasi penyelenggaraan pun diharapkan mampu mengundang minat remaja mengunjunginya.

Tak hanya gelaran fashion show, acara yang digagas Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Bokor Kencono itu juga menawarkan lomba membatik tingkat SMP dan SMA.

Mereka dituntut untuk piawai mencanting malam dan dituangkan dalam kain yang sudah disketsa motif batik. Ada sekitar 40 pelajar yang tertantang untuk bersaing dalam lomba itu. Peralatan membatik pun dibawa serta, meliputi kompor, wajan mini, canting, dan malam. Seperti perajin batik umumnya, mulut mereka pun terlihat mengerucut meniup malam.

Ketua Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Dyah W Dewi Tunjung, mengatakan sudah saatnya generasi muda mempelajari tradisi membatik. Diharapkan, acara tersebut tidak semata-mata mendorong remaja mengenakan baju batik, tapi juga mampu berkreasi dengan teknik batik, yaitu tulis dan cap. Kecenderungan di era industri saat ini mulai menggeser motif batik dengan teknik printing. Padahal teknik printing, yang diakui harganya lebih murah, tidak bisa disebut sebagai batik.

''Kami menggandeng perajin dan pencinta batik untuk mengenalkan tradisi batik yang sudah mulai ditinggalkan. Kami prihatin mengingat kemunduran produksi batik ini terus terjadi sejak tahun 1980-an,'' katanya.

Pameran itu juga menampilkan koleksi batik-batik kuno dengan usia lebih dari 100 tahun hingga yang kontemporer.

Salah satu koleksi yang mengundang decak kagum adalah motif Macan Ketawa Dlorong yang dibuat tahun 1883, Slobok (1910), Merak Tiga Negeri (1910), dan Kipas (1920).

Dalam kesempatan itu, Museum Rekor Indonesia (Muri) menganugerahkan kepada dokter Pantjer Budhi Walujo SpOG(K), pembuat rekor batik jumputan terpanjang, yakni 36 meter. (62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA