| Rabu, 14 Maret 2007 | SEMARANG |
''Suami Saya Tidak Punya Musuh''TEWASNYA Tranggono Sutejo (66) masih menyisakan rasa penasaran keluarganya. Mengapa sampai pengusaha pabrik es batu itu dibunuh? Apalagi pelaku sampai menembak kepalanya dua kali dan dadanya empat kali. Hingga kini, aparat kepolisian masih melacak motif dan pelakunya. Muncul dugaan, pelakunya memiliki unsur dendam. Enam lubang tembakan diduga menunjukkan kejengkelan pelaku terhadap korban. ''Kalau perampokan, cukup satu tembakan. Tetapi ini berkali-kali, sepertinya pelakunya jengkel,'' tutur seorang anggota Reskrim. Keluarga korban hingga kemarin tampak menutup diri dari wartawan. Bahkan sejumlah wartawan yang hendak wawancara di rumahnya, Jl Rinjani 6, Gajahmungkur, tak bisa menemui keluarga korban. Mereka menolak kedatangan wartawan. Bahkan, ketika anak korban, Angelina mendatangi Mapolwiltabes Semarang, Selasa (13/3) memilih tutup mulut. Dia juga tidak bersedia mengatakan tempat persemayaman ayahnya. Angelina mendatangi Polwiltabes sekitar pukul 16.00 didampingi tiga orang familinya. Maksud kedatangannya, menemui Kapolwiltabes Kombes Guritno Sigit Wiranto MBA mempertanyakan kronologi peristiwa itu. ''Dia datang untuk menanyakan kronologi kenapa sampai peristiwa itu terjadi. Sepertinya, mereka masih penasaran atas peristiwa itu,'' kata sumber di Polwiltabes Semarang, petang kemarin. Ungkapan penasaran itu juga terungkap ketika istri korban, Tresnawati (61), melihat jenazah korban di kamar mayat RS Bhayangkara, Senin (12/3). ''Kenapa sampai dibunuh. Padahal setahu saya, dia (suaminya-Red) tidak mempunyai musuh,'' katanya heran bercambur sedih. Tewasnya Tranggono mengingatkan peristiwa yang menimpa Ratnawati (61) warga Jl MH Thamrin 74A Semarang. Karyawan sebuah asuransi jiwa Manulife Finansial Semarang itu ditemukan tewas di Bantul, DIY, Sabtu 31 Agustus 2006 lalu. Dugaan kuat, korban dibunuh dan dirampok. Sebelumnya, korban dilaporkan hilang oleh suaminya, Teguh Gunawan (71) ke Polwiltabes Semarang. Bahkan Honda City H-7899-QS milik korban raib. Polisi hingga kini belum mampu mengungkap kasus itu. Modus yang digunakan penjahat, diduga diawali dengan penculikan. Korban kemudian digiring masuk ke dalam mobil dan dibawa ke suatu tempat. Saat itulah korban dikerjai pelaku. Diperkirakan, penjahat menguras uang korban saat yang bersangkutan masih hidup. Di bawah tekanan dan ancaman pelaku, korban terpaksa mengambil uangnya melalui ATM. Setelah itu, pelaku membunuh korbannya untuk menghilangkan jejak. Mobil korban dibawa kabur lalu dibuang ke suatu tempat. Karena barang itu cukup berisiko dalam sebuah pelarian. (Karyadi, Riyono Toepra-62) |