| Rabu, 14 Maret 2007 | INTERNASIONAL |
Jepang-Australia Teken Pakta PertahananTOKYO - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menandatangani pakta pertahanan dengan Perdana Menteri Australia John Howard, Selasa kemarin. Kedua pemimpin menegaskan, pakta pertahanan itu bukan untuk membendung pengaruh China. Berkat kesepakatan tersebut, Jepang menjadi sekutu utama Australia di bidang pertahanan. Selain Jepang, sekutu utama Australia adalah Amerika Serikat. Perjanjian itu menetapkan sejumlah prioritas kerja sama keamanan ''non-tradisional'', seperti kontraterorisme, keamanan maritim, proteksi wilayah perbatasan, dan penanggulangan bencana. ''Tujuan pakta ini adalah mewujudkan keinginan bersama Jepang dan Australia untuk bekerja sama lebih erat di bidang keamanan,'' kata Howard, setelah bertemu dengan Menteri Pertahanan Jepang Fumio Kyuma. ''Ini merupakan kemajuan penting. Orang tidak pernah melupakan masa lalu. Namun orang bergerak dari masa lalu dan tidak membiarkan masa lalu membelenggu masa kini atau masa depan,'' tambahnya. Sebagian orang Australia masih menyimpan dendam terhadap Tokyo berkaitan dengan tindakan militer Jepang pada Perang Dunia II. Belum lama ini, Abe membantah bahwa pemerintah Jepang telah memaksa perempuan untuk menjadi budak seks bagi tentara Nippon selama Perang Dunia II. Dalam beberapa tahun terakhir, Tokyo berusaha mengubah konstitusinya yang bersifat damai. Abe bahkan menyatakan ingin menegaskan status militer Jepang agar lebih mudah berperan dalam menyelesaikan masalah keamanan internasional. Bukan Ancaman Mengulangi pernyataan Howard, Abe mengatakan pakta pertahanan itu tidak untuk membendung pengaruh China. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk membantu menciptakan stabilitas di kawasan Asia-Pasifik. ''Bagi kami, pakta ini membuat kedua negara bekerja sama untuk memajukan pembangunan regional dan membantu perdamaian serta keamanan di dunia,'' kata Abe kepada radio Australian Broadcasting Corp. Beijing kemarin menyatakan China bukanlah ancaman bagi kawasan ini. ''Kami berharap, mereka mengatakan hal yang sesungguhnya,'' kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Qin Gang. ''Selain itu, kami tidak akan menginvasi atau menjadi ancaman bagi siapa pun. Tak ada yang kami sembunyikan, jadi tak perlu khawatir.'' Canberra mengatakan, perjanjian itu akan mendorong kedua negara berbagi informasi intelijen. Pasukan Jepang juga akan diikutkan dalam pelatihan di wilayah Australia. Kendati demikian, kedua negara menyatakan pakta itu tidak mirip dengan perjanjian pertahanan bersama seperti yang dibuat oleh Jepang dan AS. Tokyo dan Canberra akan menyusun rencana aksi setelah meneken perjanjian tersebut. Kemudian, para pejabat kedua negara akan merumuskan langkah-langkah terperinci mengenai kerja sama militer. Jepang dan Australia telah memiliki sejarah kerja sama militer. Howard kemarin berterima kasih kepada sekelompok tentara Jepang yang ikut membantu pasukan Australia dalam misi rekonstruksi di Irak selatan. Jepang dan Australia merupakan sekutu paling setia bagi Washington. Kedua negara tersebut mendukung invasi ke Irak dan mengirimkan tentara mereka ke negara Teluk itu. Tokyo menarik pasukan daratnya tahun lalu, namun personel Angkatan Udara-nya masih berada di Kuwait untuk membantu menyuplai logistik bagi pasukan koalisi dalam perang Irak. AS, Australia, dan Jepang telah meningkatkan kerja sama keamanan mereka melalui dialog reguler. Tokyo dan Canberra juga akan memulai perundingan mengenai perjanjian perdamaian bebas bulan depan.(rtr-ben-26) |