logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Maret 2007 NASIONAL
Line

SBY Nyanyi ''Lihat Kebunku''

  • Usai Mencoblos Pilkades

SM/Sumardi IKUT PILKADES: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan putranya, Eddy Baskara ketika memasukkan surat suara dalam Pilkades Desa Nagrak, Gunung Putri, Bogor, Jabar, Minggu (11/3). (57)

TUMPLEK blek. Begitulah suasana yang terlihat pada pelaksanaan Pilkades Desa Cikeas Nagrak, Kecamatan Gunung Puteri Kabupaten Bogor, kemarin.

Warga dari desa di sekitarnya rela mencarter angkot, bahkan truk bak terbuka, hanya karena ingin melihat lebih dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta keluarganya yang mencoblos pemilihan kepala desa (Pilkades) di wilayah itu.

Warga berbagai perumahan elite di sekitar Puri Cikeas Nagrak (kediaman pribadi Presiden) pun tidak ketinggalan ikut coblosan, sehingga di sekitar tempat pemungutan suara (TPS) yang berlokasi di tanah lapang desa tersebut berserak berbagai jenis kendaraan mulai angkot, truk, sepeda motor sampai sedan mewah.

Bisa dipastikan Pilkades di tempat inilah yang paling mewah dibandingkan Pilkades di 219 desa lainnya di Kabupaten Bogor, yang pelaksanaannya dilakukan secara serentak kemarin. Bahkan, boleh jadi yang paling wah di seluruh Indonesia, dari segi antusias warga, peliputan media lokal maupun luar negeri, serta pengamanan. Kapolda Jabar Irjen Pol Drs Sunarko Danu Ardhanto juga terjun langsung ke Cikeas.

Presiden SBY, Ibu Ani, serta putera bungsunya Edhi Baskoro tiba di lokasi pukul 09:54 Presiden. Begitu turun dari Toyota Alphard Biru B-909-YS, mereka disambut terik matahari dan teriakan warga yang ingin berebut salaman.

SBY hanya memberikan salam dari jarak jauh. Dia dan rombongan kemudian bergegas menuju TPS. Warga pun meneriaki juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng agar diizinkan bersalaman. Namun dia hanya senyum-senyum dan bergegas mengikuti langkah Presiden. Saat itulah pagar pembatas yang terbuat dari bambu jebol karena begitu banyak warga ingin berebutan melihat.

SBY menukarkan surat undangan bernomor 3917 dengan kartu suara, sementara itu istrinya menukarkan undangan bernomor 3916 sedangkan anaknya nomor 3919. Ketiganya merupakan bagian dari 7.347 warga Cikeas Nagrak yang punya hak suara.

Tiga calon kepala desa (Kades) yang bertanding untuk periode 2007-2013 adalah H Boin Sugiri (Kades lama yang telah habis masa jabatannya), H Nurdin (Sekdes), dan Dudung Dimyati (Ketua Badan Perencanaan Desa Nagrak) serentak berdiri ketika SBY dan keluarga masuk bilik suara. Tak jauh dari lokasi itu seorang ibu berkerudung mendadak pingsan dan harus digotong keluar TPS.

Hak Pilih

Usai mencoblos, SBY mengatakan, dirinya dan keluarga menggunakan hak pilihnya sebagai warga desa untuk kegiatan yang positif dan demokratis. Selain itu dirinya mengaku telah mengetahui latar belakang ketiga calon.

''Saya juga telah mengetahui apa saja yang mereka lakukan jika nantinya terpilih untuk memimpin desa ini. Ya, katakanlah misi dan visi, maupun programnya. Atas dasar itulah kami menggunakan hak pilih. Saya tidak tahu apa yang dipilih oleh istri dan anak saya di tempat tertutup,'' katanya.

SBY mengatakan, dengan pelaksanaan Pilkades yang langsung umum bebas dan rahasia serta jujur dan adil, maka dari desa pun bisa memberikan contoh kehidupan demokrasi yang baik untuk dikembangkan di negeri ini. Siapa pun yang terpilih nanti harus sungguh-sungguh menjalankan tugas dan kewajibannya.

Sebagai warga yang telah lama tinggal di Cikeas Nagrak, dia melihat dalam lima tahun terakhir di desa berkembang pesat, dari desa pertanian menjadi kawasan perumahan, pertokoan, perkantoran. Sarana pendidikan dan objek wisata juga ada.

''Oleh karena itu, kepala desa yang terpilih harus benar-benar mengetahui perubahan-perubahan, baik perubahan sosial maupun ekonomi. Tugas Kades Nagrak ini makin tidak ringan. Sesungguhnya secara sosial ekonomi desa ini telah tumbuh dan berkembang dengan pesat,'' kata Presiden.

SBY, selaku warga dan pemimpin negara, meminta untuk tidak mempersulit urusan, misalnya pengurusan KTP atau surat-surat yang lain. ''Karena penduduk kita ini tidak semua berpenghasilan menengah. Ada yang masih miskin. Permudah setiap urusan. Kita ingin desa itu makin mandiri, makin bekecukupan.''

Saat Presiden dan Ibu akan pulang, tampak empat gadis cilik mencegat dan mewawancarainya. Keempatnya merupakan wartawan cilik dari Bando-Space Toon (acara TV anak-anak). Presiden yang sudah masuk dan bergerak menuju kediamannya, bersedia turun dari mobil untuk melayani wawancara Rizki Nurfajri, Rachel, Miyomi dan Ayako. ''Pak, kok sering banjir dan longsor sih,'' tanya Rizki.

Presiden dan Ibu Ani tidak langsung menjawab. SBY lalu menjelaskan bahwa saat kecil dirinya punya lagu favorit yaitu ''Lihat Kebunku.'' Lalu diajaklah keempat anak itu menyanyikan lagu itu bersama sambil bertepuk tangan.

Presiden mengatakan, agar tidak ada lagi banjir dan tanah longsor, maka lingkungan harus dijaga. Wartawan cilik bertanya lagi, bagaimana caranya agar jadi Presiden. Mendengar pertanyaan itu, Presiden dan Ibu Ani tertawa, lalu SBY menjawab bahwa anak-anak harus rajin berdoa, belajar sungguh-sungguh, patuh kepada orang tua dan guru.

''Insya Allah, kalau anak-anak mengikuti saran itu, akan menjadi putra-putri terbaik bangsa, termasuk menjadi Presiden. Kalau ditanya berat ya berat juga jadi Presiden karena diberi amanah besar.''

Pada penutup wawancara tersebut, wartawan cilik memperagakan yel-yel khas bando, yaitu memegang kepala sambil berkata, ''Bando ya ampuuun.''

Mereka mendaulat Presiden dan Ibu Ani untuk melakukan hal itu.

Maka, SBY, istri, dan keempat anak berteriak bersama, ''Bandooo ya ampun.''

Dan semua yang hadir langsung bertepuk tangan. Suasana pun jadi meriah. (Hartono Harimurti-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA