logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Maret 2007 NASIONAL
Line

KISAH

Mereka yang Selamat dari Musibah Garuda (3)

Ahmad Nurul Takut Naik Pesawat Lagi


SM/Setyo Sri Mardiko TIKET GARUDA: Ahmad memperlihatkan tiket pesawat garuda serta paspor miliknya. (30)

BAGI Ahmad Nurul Aminul Huda (32), musibah kecelakaan pesawat Garuda di Bandara Adisucipto Yogyakarta pada Rabu (7/3) pagi masih menyisakan trauma. Warga Desa Podosari RT 4 RW 1 Kecamatan Cepiring itu mengaku, peristiwa yang dialaminya masih membayangi saat dirinya hendak beranjak tidur.

Lelaki yang akrab disapa Nurul itu merupakan salah-satu dari puluhan penumpang yang selamat, dalam musibah kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan GA 200 tersebut.

"Untuk sementara waktu ini, saya masih takut naik pesawat. Namun, saya yakin trauma itu lambat-laun akan terkikis. Saya anggap itu musibah, dan saya masih diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa," ungkap Nurul saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Dia menuturkan, kendati muncul kecurigaan terhadap pesawat yang ditumpanginya saat hendak mendarat, dia sama sekali tak membayangkan akan terjadi kecelakaan tragis. "Sebelum mendarat, beberapa kali pesawat sempat bergetar cukup keras. Kondisi ini juga terasa ketika pesawat berbelok, untuk persiapan pendaratan di bandara. Beberapa kali pesawat miring ke kanan dan ke kiri," jelas Nurul yang pada saat itu terus melihat situasi luar melalui jendela pesawat.

Pesawat akhirnya berhasil mendarat, imbuh dia. Namun, hentakan keras di dalam pesawat dirasakan dirinya dan penumpang lainnya. "Setelah mendarat, pesawat sempat kembali mengudara, dan kembali mendarat. Saya tidak tahu apakah roda pesawat sudah turun atau belum."

Sabuk Macet

Yang jelas, lanjut dia, saat pesawat landing dengan kecepatan tinggi di landasan bandara, terdengar suara gemuruh yang keras. "Saat itu, saya menahan tubuh dengan posisi kedua tangan memegang bagian belakang kursi di depan. Ketika pesawat berhenti keras, wajah saya sempat membentur kursi di depan."

Akibatnya, lelaki lajang itu mengalami luka ringan di bibir. Dia mengaku masih beruntung, lantaran ada sejumlah penumpang lain yang tanggal gigi depannya.

Anak ke-9 dari sepuluh bersaudara pasangan H Sinhaji (70) dengan Hj Nurjamatun Naim itu menumpang pesawat nahas dari Jakarta tujuan Yogyakarta. Dia duduk di kursi penumpang nomor 12A, berdekatan dengan sayap serta pintu darurat pesawat sebelah kiri.

Nurul baru menyadari pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan, saat dirinya melihat dari pemandangan areal sawah dari jendela pesawat.

"Ternyata pesawat telah berada di luar landasan. Bersamaan dengan berhentinya pesawat, terdengan suara ledakan kecil dari mesin turbin di sayap kiri."

Turbin itu juga mengepulkan asap tipis. Belakangan diketahui, pesawat berhenti setelah menabrak pagar beton di ujung landasan. Ketika pesawat berhenti, para penumpang berhamburan untuk keluar melalui pintu darurat. Mereka semakin panik karena pintu darurat sulit dibuka. (Setyo Sri Mardiko-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA