logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Maret 2007 SALA
Line

Tanaman Direndam agar Sundep Tak Datang

PETANI di 14 Kecamatan di Klaten sejak Januari dipusingkan hama sundep (Triporiza Inzerculas) atau penggerek batang. Hama itu sudah merusak lebih dari 300 hektare padi. Bahkan serangan akhir-akhir ini meluas ke wilayah lain. Apa cerita petani?

Wajah Poniman (49) petani Sobrah Gede, Klaten Tengah terlihat letih di pematang. Mata kakinya berlepotan lumpur. Dia mengaku kekeringan sudah lewat tetapi hama sundep gantian datang. Lahan tetangga desa di Desa Buntalan, Klaten Selatan yang tak jauh dari sawahnya sudah rusak dijarah sundep.

Yang membuat dia jengkel, beberapa pekan terakhir penggerek batang mampir ke sawah di desanya yang hanya dibatasi jalan raya. Hama yang dibawa kupu kecil atau klaper itu mulai memangsa batang padi sehingga 70 persen padi mati.

Satu petak (900 m2) membutuhkan minimal 5 kilogram pestisida. Padahal harga saat ini untuk jenis Vuradan mencapai Rp 20.000/ kg. Kalau dituruti bisa jadi ongkos tanam melambung sedang panen tak bisa diandalkan.

Cukup Efektif

Obat juga belum tentu berhasil karena hama jenis ini seperti tak habis. Pagi disemprot, dua hari datang lagi. Para petani jarang yang menggunakan pestisida. Lalu apa akal ? Di desanya petani memilih cara alami dengan mengairi sawah sampai setengah batang padi (8 cm). Cara yang diwarisi turun-temurun itu cukup efektif. Kupu pembawa telur hama tak mampir dan menempelkan telur. Kalaupun sebelumnya sudah ada yang menetas, sundep akan mati karena batang padi direndam.

Surabi, petani lain mengaku cara itu cukup efektif dibanding cara manual lain. Misalnya, mencari telur hama atau kupu di batang lalu dibunuh. Cara ini susah karena padi yang diserang biasanya di bagian tengah. Bagi petani yang terlanjur malas atau tidak mampu membeli obat kadang pasrah. Serangan dibiarkan dan menunggu semaian batang yang dipotong sundep.

Koordinator Pengandalian Hama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Sunarno mengatakan sedang diujicobakan alat untuk memancing kupu agar tak ke sawah. (Achmad Hussain-67)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA