| Kamis, 08 Maret 2007 | NASIONAL |
Gempa Sumbar Picu Patahan SumatraBANDUNG- Pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, menyatakan gempa Sumatra Barat besar kemungkinan bakal memicu patahan Sumatra pada segmen yang masih berhubungan. Energi yang dikeluarkan diperkirakan akan lebih besar karena sudah tidak menunjukan aktivitasnya dalam rentang waktu yang lama. "Pascagempa pada Selasa, yang perlu diwaspadai adalah segmen Sianok dari Bukit Tinggi ke arah utara. Sumber gempa bumi yang terjadi kemarin itu dekat dengan posisi segmen itu. Segmen ini kelihatannya belum pernah melepaskan energinya sejak lebih dari seratus tahun," ungkapnya, Rabu (7/3). Dijelaskan Danny, gempa yang mengguncang wilayah Sumbar Selasa lalu berasal dari Patahan Sumatra di ujung selatan dari segmen Sianok. Letaknya di sekitar di Danau Singkarak. Durasi gempa berlangsung selama kurang lebih dua jam. Ditandai dengan gempa-gempa pendahuluan (foreshock), kemudian terjadi dua kali gempa cukup besar dengan skala magnitudo antara 6,3 dan 6,1 pada skala Richter. Menurut Danny yang intens mengamati patahan-patahan di sekitar Sumatera, gempa serupa pernah terjadi di patahan tersebut. Pada tahun 1926 terjadi gempa dua kali secara berturut-turut. Kejadiannya hanya berselang 30 menit. Yang membedakan, lanjutnya, magnitudo tercatat jauh lebih besar, mencapai kekuatan 7 SR lebih. Dampaknya pada waktu itu, kekuatan gempa pertama memecahkan segmen Sumani, antara Danau Dibawah dan Danau Singkarak. Goncangan 30 menit berikutnya yakni gempa kedua mampu memecahkan segmen Sianok, yang membentang dari dari Danau Singkarak sampai Bukit Tinggi atau Padang Panjang. Dia menyatakan, masyarakat yang menjadi korban akibat gempa diberitakan mencapai 300 orang. 200 Rumah Rusak Gempa 5,8 Skala Richter (SR) yang mengguncang Solok, Sumatera Barat merusak berbagai bangunan dan pemukiman. Lebih dari 200 rumah rusak di Kabupaten dan Kota Solok. "Perkiraan lebih dari 140 rumah di kabupaten dan lebih dari 100 rumah di Kota Solok rusak. Tapi data pasti kita belum bisa menyimpulkan," ujar Wali Kota Solok Syamsu Rahim. Untuk itu, Pemkot Solok telah menyiapkan tenda-tenda darurat di Lapangan Merdeka, Jl Proklamasi, Solok. Warga yang ingin mengungsi sementara waktu karena rumahnya hancur atau tidak aman, dipersilakan menempati. "Tapi sebagian warga masih memilih tinggal di tempat masing-masing." Hingga Rabu (7/3) pukul 10:40, total koban tewas akibat gempa di Solok, Sumatera Barat (Sumbar) sebanyak 21 orang. Kerugian diperkirakan lebih dari Rp 50 miliar. Dari 21 orang korban meninggal, sebanyak 15 di antaranya adalah warga Kabupaten Solok. Sedangkan sisanya, adalah warga kota Solok. Sedangkan untuk korban luka-luka tercatat sebanyak 219 orang. "Kemungkinan besar masih ada korban lainnya yang masih berada dalam perawatan anggota keluarga dan belum dilaporkan ke posko," ujar Syamsu Rahim. Tidak hanya di Solok, warga Bukit Tinggi, Sumatera Barat, juga trauma akibat gempa tersebut. Mereka memilih tidur di luar rumah demi keselamatan. Warga yang memiliki mobil pribadi ada juga yang memilih tidur di mobilnya. (dwi,dtc-46,60) |